Ancaman resesi ekonomi sudah di depan mata. Untuk mengantisipasinya, dalam skala lokal pemerintah daerah mengutamakan ketahanan pangan. Sementara di sektor energi, pertambangan batu bara tetap menjadi andalan.

 

SAMARINDA - Secara ekonomi, pertambangan batu bara memang masih menjadi andalan Kaltim. Kontribusinya terhadap struktur perekonomian pada triwulan III 2022 mencapai 55,79 persen. Jauh di atas industri pengolahan di angka 14,33 persen. Batu bara juga masih menjadi tumpuan energi dalam negeri dan memberikan devisa bagi negara.

Apalagi, harga komoditas batu bara tetap diperdagangkan pada level yang tinggi. Pada November 2022, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan harga batu bara acuan (HBA) sebesar USD 308,20 per metrik ton. Sedikit menurun dibandingkan Oktober 2022 yang mencapai 330,98 per metrik ton. Meski demikian, pertambangan masih diandalkan untuk menopang ekonomi 2023.

“Untuk ketahanan energi kita masih cukup. Ketahanan pangan kita juga akan dibangun sentra-sentra produksi pangan semaksimal mungkin, kita harus berkoordinasi dengan daerah lain dan sebagainya, untuk siap menghadapi resesi,” jelas Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi, Minggu (13/11).

Terpisah, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kaltim Ricky P Gozali mengatakan, Kaltim masih menghadapi berbagai tantangan struktural perekonomian saat ini. Seperti diketahui, hampir separuh dari pangsa produk domestik regional bruto (PDRB) Kaltim saat ini masih didominasi oleh sektor pertambangan dan ekspor SDA mentah khususnya batu bara.

“Hal tersebut mengakibatkan kinerja perekonomian Kaltim cenderung fluktuatif mengikuti harga komoditas global,” tuturnya. Untuk terus menumbuhkan sektor lain, tanpa melupakan batu bara, pengembangan kawasan ekonomi khusus atau kawasan industri dapat menjadi salah satu upaya untuk mengawali proses transformasi struktural perekonomian Kaltim hingga tumbuh lebih tinggi, inklusif, stabil, dan berkelanjutan.

Untuk mendukung itu, KPw-BI Kaltim dan berbagai instansi yang tergabung dalam Regional Investor Relations Unit (RIRU) telah melaksanakan sejumlah key activities seperti melakukan penjaringan potensi investasi, melakukan fasilitasi one-on-one meeting terhadap project owner, dan potential investors dan memberikan fasilitas business matching UMKM potensial dengan potential buyers dari berbagai negara.

Adapun, Ricky mengungkapkan RIRU juga sudah memfasilitasi sejumlah proyek di Kaltim seperti Balikpapan–PPU Toll Bridge Project dan Waste Management Balikpapan untuk melakukan one-on-one meeting dengan investor dari luar negeri, seperti Tiongkok, Beijing, London, dan Dubai sepanjang tahun 2022. “Harapannya, agar investasi bisa diarahkan kepada sektor-sektor hilirisasi,” tuturnya. (ca/adv/diskominfokaltim)