RENO, warga Gunung Malang, Balikpapan Tengah, sudah tiga tahun menjalani pekerjaan sebagai ojek online (ojol). Saban hari dirinya bekerja dari pukul 08.00–18.00 Wita. Dan biasanya hanya mengeluarkan uang untuk bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite seharga Rp 20 ribu dalam sehari. Mengisi tangki motor Honda Beat keluaran 2013.

Namun, sejak kenaikan BBM khususnya pertalite, dari harga Rp 7.650 per liter menjadi Rp 10 ribu per liter, pada 3 September lalu, Reno harus mengeluarkan Rp 32 ribu agar motornya bisa digunakan seharian. Sehingga diakuinya, pengeluarannya semakin boros.

“Kalau membandingkan, saya tidak bisa (pertalite lebih boros setelah kenaikan harga). Yang jelas itu. Sebelumnya isi Rp 20 ribu sudah cukup seharian saya ngojek, kini cukupnya Rp 32 ribu,” ungkap Reno, Rabu (21/9).

Apa yang diungkapkan Reno kini menjadi perdebatan di dunia maya. Warganet menuding, pertalite menurun kualitasnya. Karena dengan volume yang sama, jarak tempuh cenderung lebih pendek. Bahkan ada kecurigaan dari warganet yang menyebut dengan harga yang mahal, pertalite yang dijual saat ini sudah tidak lagi RON 90. Spekulasi liar pun merebak hingga menjadi viral.

Menanggapi kabar tersebut, Pertamina membantah. Melalui Area Manager Communication & CSR Regional Kalimantan Susanto August Satria menjelaskan, produk BBM Pertamina jenis pertalite (RON 90) tidak mengalami perubahan spesifikasi.

“Adapun standar dan mutu pertalite yang dipasarkan melalui lembaga penyalur resmi di Indonesia sesuai Keputusan Dirjen Migas Nomor 0486.K/10/DJM.S/2017 tentang Standar dan Mutu (Spesifikasi) Bahan Bakar Minyak Jenis Bensin 90 yang Dipasarkan di Dalam Negeri,” jelas Satria, kemarin.

Lantas yang menjadi pertanyaan selanjutnya terkait efek penggunaan BBM jenis pertamax ke pertalite. Mengingat dengan ikut naiknya harga pertamax, dari Rp 12.500 per liter menjadi Rp 14.500 per liter, dipastikan akan terjadi migrasi ke BBM yang lebih murah. Dan apa yang terjadi kepada konsumen itu karena faktor lain seperti jenis kendaraan.

“Dalam manual book kendaraan, pabrikan telah menyesuaikan bahan bakar yang cocok sesuai jenis kendaraan. Sering gonta-ganti isi bahan bakar dengan angka oktan/cetane yang berbeda tidak direkomendasikan,” ungkap Satria.

Lanjut dia, sebaiknya pengendara selalu konsisten memilih bahan bakar yang berkualitas, agar mesin kendaraan selalu awet dan terawat. “Lebih aman menggunakan bahan bakar berkualitas dengan oktan/cetane yang direkomendasikan oleh pabrikan, agar mesin bisa bekerja secara maksimal,” saran Satria. (rom/k16)

 

M RIDHUAN

[email protected]