Berbagai upaya mengantisipasi melonjaknya harga bahan pokok terus dilakukan Pemkab Kutim, imbas dari  kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi.

 

SANGATTA - Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Kadisperindag) Kutim Zaini mengatakan, terjadi kenaikan terhadap harga bahan pokok di setiap kecamatan. Menurutnya, di Sangatta Utara, Sangatta Selatan memang sudah terjadi kenaikan harga. Sedangkan di kawasan Sangkulirang masih terbilang normal.

“Karena adanya pelabuhan laut di Sangkulirang. Begitu pula di kawasan Sangatta Utara dan Sangatta Selatan, wilayahnya dilintasi jalur ekspedisi angkutan darat,” ujarnya.

Dia menilai, hal tersebut sebuah keuntungan untuk pendistribusian barang bagi tiga kecamatan tersebut. Kendati demikian, pihaknya khawatiran pada kawasan Utara Kutim. Di antaranya Kecamatan Busang, Long Mesangat, Muara Bengkal dan Muara Ancalong.

“Jalur transportasi darat yang dilalui lumayan berat. Kami harap dapat segera melaksanakan operasi pasar murah pada setiap kecamatan itu,” tuturnya.

Dia memastikan, berdasarkan pantauan di lapangan, kawasan Sangatta masih memiliki peternak-peternak ayam petelur. Sehingga untuk kebutuhan telur dalam daerah masih dapat memenuhi kebutuhan di pasaran. Meskipun kini harga telur per piring isi 30 butir mencapai Rp 60 ribu.

“Dalam sehari tersedia 18 ribu butir telur yang dihasilkan para peternak di Sangatta. Setidaknya dapat memenuhi kekurangan pasokan telur dari luar daerah. Kalau mendatangkan dari luar daerah, tentu harga akan semakin mahal,” paparnya.

Pihaknya tetap khawatir, ke depannya harga telur akan terus naik. Mengingat para peternak bergantung pada pakan ternak dari luar Kutim. Padahal sebelum Covid-19 melanda, para peternak dapat menghasilkan 40 ribu butir telur telur per hari.

“Sekarang kan jumlahnya turun signifikan. Makanya dibutuhkan keseriusan lebih jauh dari para peternak, untuk mengupayakan pemenuhan kebutuhan pakan ternak secara mandiri,” katanya. (dq/ind)