SANGATTA – Inflasi mulai berdampak di beberapa daerah. Harga-harga barang maupun sembako merangkak naik, termasuk di Kutai Timur (Kutim). Pemkab pun melakukan serangkaian antisipasi. Asisten II Sekretaris Kabupaten Kutim Zubair menggelar inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Induk Sangatta (PIS).

“Informasi yang kami peroleh dari para penjual, secara umum harga barang mengalami kenaikan yang bervariasi. Mulai 10 persen hingga 30 persen,” ungkapnya.

Kendati demikian, ada beberapa pedagang makanan olahan yang belum menaikkan harga. Indikasi sementara melonjaknya harga, kata dia, bukan karena kenaikan harga BBM. Melainkan adanya pedagang pesaing yang melapak di luar PIS, seperti pasar tumpah.

“Dampak adanya pesaing itu, sangat dirasakan pedagang di Pasar Induk. Minat pembeli untuk belanja turun hingga 70 persen. Makanya, perlu intervensi pemerintah supaya dapat mengendalikan inflasi dan aktivitas pasar kembali normal. Sehingga, masyarakat tidak resah,” terang mantan kepala Balitbang Kutim itu.

Sementara itu, Kabid Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutim Pasombaran berharap, setelah sidak dilakukan dapat menemukan formula penanganan yang tepat. Mengendalikan inflasi yang dirasakan pedagang maupun pembeli pasca kenaikan harga BBM.

“Kenaikan harga BBM pasti berdampak secara bertahap bagi perekonomian. Pemkab terus berupaya dengan segala strategi, supaya bisa meminimalisasi inflasi yang terjadi,” tutupnya. (dq/ind/k15)