TANA PASER - Kecenderungan masyarakat Kabupaten Paser dalam berladang padi dan sawah makin menipis. Ini terbukti dari data Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Paser. Ada 1.000 hektare lahan tani yang berubah jadi lahan perkebunan yaitu kelapa sawit, dalam lima tahun terakhir. 

Kepala DTPH Paser Erwan Wahyudi mengungkapkan hal ini jadi perhatian khususnya pemerintah daerah. Untuk menghindari hal itu kembali terjadi, daerah telah membuat peta polygon agar masyarakat tidak asal merubah lahannya. "Nanti ada peta lahan pertanian berkelanjutan. Insyaallah Desember ini selesai," kata Erwan, Selasa (20/9).

 Dari peta tersebut nantinya tiap lahan warga yang memang terdaftar, telah terdata titik koordinatnya. Sehingga pemerintah bisa memonitor mana yang ingin merubah. Namun kendala di lapangan masih ada, karena masyarakat tetap bersikeras ingin sesukanya merubah fungsi lahan mereka. Dengan dalih itu tanah mereka dan terserah ingin diapakan. 

"Akhirnya ini seperti buah simalakama," terang Erwan. Pemerintah tetap akan mempertahankan kebijakan ini melalui peraturan daerah. Sehingga jika masih ada yang nekat, akan dikenakan sanksi. 

Melihat fenomena ini, pemerintah daerah telah memberikan opsi jika lahan padi tidak berkembang, maka bisa dialihkan ke tanaman hortikultura. Menurut mantan peneliti Kementerian Pertanian itu, lahan dan cuaca di Kaltim tetap bisa menanam komoditas seperti cabai dan bawang yang selama ini masih di dominasi dari luar daerah pasokannya. 

"Tinggal teknik penanamannya saja. Terakhir ada panen bawang di Sebakung," lanjutnya. Erwan mengatakan di luar negeri saat ini sudah dikurangi perkebunan kelapa sawit. Karena mereka menilai tidak ramah lingkungan. Sementara potensi hortikultura besar sekali dan pusat mau memfasilitasi untuk bibit dan lainnya. Ada 14 ribu hektare lahan pertanian masih potensial. Untuk yang statusnya klir dan bersih sekitar 9 ribuan hektare, dan sisanya masih terkendala status cagar alam maupun pinjam pakai lainnya. (jib/far)