Bali menyimpan sejuta pesona tak terbantahkan. Setelah sempat mati suri karena pandemi Covid-19, kini ramai wisatawan bertandang melepas rindu kembali. Ditambah sekarang penerbangan dari Balikpapan tak perlu transit lagi.

 

ULIL YIN MU'AWANAH, Denpasar

[email protected]

 

PESONA Bali selalu berhasil mencuri hati. Membuat orang tertarik datang berkunjung, mulai pantai, hingga pemandangan alamnya yang menakjubkan. Tak hanya unggul karena keeksotisan alam nan magis, Pulau Dewata mempunyai kebudayaan khas yang kuat, juga menyimpan wisata religi yang penuh dengan kearifan lokal. Menjadikan destinasi utama di Indonesia itu segera pulih dari sapuan ombak pagebluk.

Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Balikpapan Joko Purwanto menuturkan, selama ini pelaku pariwisata di daerah sudah sering melakukan business to business (B to B) dengan pelaku pariwisata di Bali. Kendati belum dilakukan secara resmi melalui memorandum of understanding (MoU) antar-kepala daerah.

“Semua wisatawan berbagai negara masuknya dari Bali. Supply on demand-nya besar, kalau di Kaltim demand untuk wisatawan asing atau mancanegara masih kurang. Sehingga perlu limpahan dari Bali. Itulah yang coba terus kita tingkatkan melalui B to B,” tutur Joko, Rabu (14/9).

Untuk mewujudkan pariwisata Indonesia yang lebih mendunia, ia berujar, Bali tidak bisa sendiri, melainkan perlu dukungan daerah lain supaya sama-sama berkembang dan merata. Sejauh ini, pelaku pariwisata di daerah sudah berpartner dengan pelaku pariwisata di Bali. Melalui kerja sama, mereka, operator tur di sana mempromosikan dan menjual wisata dari daerah lain juga.

Bagi masyarakat atau wisatawan yang ke Bali, Kaltim memiliki tempat spesial. Dilatarbelakangi sejarah kerajaan Hindu tertua di Kaltim. “Itu jadi daya tarik bagi orang Bali. Itu yang bisa kita angkat menjadi wisata religi seperti halnya menjalani umrah,” jelasnya.

Peningkatan kunjungan dari Bali ke Balikpapan diakui belum signifikan, karena kondisi ekonomi baru recovery. Pada masa sekarang, untuk mempercepat pemulihan tersebut diperlukan konektivitas.

Dari itu, Joko merasa senang dan mengapresiasi atas dibukanya layanan penerbangan secara direct call Balikpapan-Denpasar. Karena akan sangat menunjang masyarakat yang hendak berlibur, bekerja ataupun menjalankan bisnisnya. Tanpa harus melakukan transit lagi sebab memakan waktu. Di samping, Kaltim juga bakal berpeluang kedatangan wisatawan mancanegara.

Joko mengatakan, kemudahan tersebut juga membuka peluang investasi semakin luas dan cepat berkembang. Dengan saling bersinergi. Ditambah lagi, kini seiring dengan pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Benua Etam, pelaku usaha di Kaltim maupun Bali berlomba-lomba menggali potensi.

“Investasi sudah tentu, bahkan banyak pengusaha dari Bali tengah mencari lahan untuk membangun properti dan komoditas Kaltim dikirim ke Bali,” bebernya.

Bulan ini, Lion Air telah melayani rute Balikpapan-Denpasar, pergi dan pulang (PP). Tujuannya agar semakin memberikan nilai lebih bagi masyarakat, pebisnis, hingga wisatawan pengguna moda transportasi udara. Sehingga, lebih cepat sampai di tujuan dan memiliki kesempatan semakin luas untuk bisa terhubung dengan kota-kota tujuan lain.

Terbang perdana, pesawat Lion Air dengan kode penerbangan JT 663 itu pun mengudara Jumat (9/9) lalu dari Bandar Udara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan/Bandara SAMS Sepinggan. Secara langsung berjadwal domestik (regular flight) tujuan PP. Penerbangan dilakukan setiap Jumat dan Minggu. Atau dua kali dalam sepekan.

Corporate Communications Strategic of Lion Air Danang Mandala Prihantoro menjelaskan, penerbangan dilakukan langsung, nonstop (tanpa transit) yang menghubungkan kedua kota tujuan tersebut menjadi lebih dekat. Sebab, mempersingkat waktu tempuh dan lebih memperpendek jarak. Bahkan dalam waktu 1,5 jam penumpang telah sampai di Pulau Dewata.

Sehingga penumpang pun punya kesempatan lebih luas untuk melanjutkan penerbangan (connecting flight) dari dan menuju kota tujuan, melalui Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali. “Kehadiran rute terbaru ini diharapkan bisa menyokong percepatan dan pemulihan ekonomi di Kaltim dan Bali yang sejalan. Juga berkontribusi untuk menggeliatkan sektor pariwisata, UMKM, dan industri lainnya,” harap Danang.

Sebelum tersedia layanan direct call, Airport Operation Services and Security Senior Manager PT Angkasa Pura I Balikpapan Airef Sirajuddin mengatakan, masyarakat Kaltim yang hendak ke Bali mesti transit ke Surabaya terlebih dulu.

Tetapi, beberapa waktu belakangan kian banyak maskapai yang menawarkan penerbangan langsung. Didahului oleh Citilink, AirAsia, dan terbaru Lion Air. Meski baru melayani secara terbatas dua kali dalam sepekan, ke depan berharap penerbangan semakin ramai. Agar dapat ditingkatkan menjadi tiga kali atau bahkan setiap hari. Sehingga, bisa mengerek pertumbuhan jumlah penumpang juga.

“Namun, paling tidak sekarang ini keperluan masyarakat ke Bali telah terlayani. Dan yang menarik, sejak 1 September 2022, Balikpapan sudah dinyatakan sebagai entry point internasional. Ya, semoga ada lagi penerbangan langsung lagi ke luar negeri,” kata Arief.

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Balikpapan Cokorda Ratih Kusuma menyambut baik banyak maskapai yang melakukan direct call.

“Ini berdampak pada peningkatan wisatawan. Kita tahu Bali dengan destinasi wisatanya yang bagus berdampak positif pada Balikpapan. Tentang pariwisata kita bisa bertukar pengalaman. Kita lihat destinasi di sini mungkin bisa mengadopsi Bali, begitupun dengan Bali,” ujar Ratih. (rom/k15)