Selain mewakili almarhum Thohari Aziz, sosok Risti dianggap representasi dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

 

BALIKPAPAN-Keputusan Partai Golkar yang memilih Risti Utami Dewi Nataris sebagai bakal calon wakil wali kota (wawali) Balikpapan dinilai sebagai strategi cerdik. Sehingga mampu menepis perselisihan di antara partai pengusung yang sudah memiliki bakal calon wawali sendiri. Walaupun, DPP PDIP jauh hari sebelumnya telah mengusulkan Budiono sebagai bakal calon wawali.

Menurut pengamat politik Kaltim, Budiman, dengan memilih Risti, Wali Kota Balikpapan yang juga Ketua DPD II Partai Golkar Balikpapan Rahmad Mas’ud, hanya dengan satu langkah, telah menjangkau dua hal yang bisa dicapai ke depannya. Pilihan tersebut dapat memuaskan keluarga besar Thohari Aziz dan PDIP. Budiman meyakini, sampai sekarang, masih ada basis massa dan simpatisan yang memiliki loyalitas kepada Thohari Aziz, sehingga Risti dapat dikatakan representasi atau keterwakilan Thohari Aziz dan juga PDIP.

“Ibarat dalam olahraga sepak bola, ini adalah permainan cantik dari Golkar. Artinya dia bisa meredam PDIP dan keluarga almarhum Thohari Aziz. Pilihan itu, juga bisa meredam partai pengusung lainnya. Dengan mengulang sejarah kesepakatan bersama untuk mengusung almarhum Thohari Aziz dalam pemilihan sebelumnya,” katanya kepada Kaltim Post,Kamis (15/9). Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Mulawarman (Unmul) ini mengungkapkan, Golkar yang memilih Risti juga merupakan investasi jangka panjang yang dilakukan Rahmad Mas’ud.

Pasalnya, Rahmad Mas’ud yang saat ini menjadi wali Kota Balikpapan untuk periode pertamanya, memerlukan sosok yang dinilai mampu mendukung kinerjanya. Sekaligus, menguatkan kepemimpinannya untuk periode berikutnya. Sehingga sangat hati-hati dalam memilih wawalia agar tidak memunculkan kesan “matahari kembar” di periode pertama kepemimpinannya.  “Atau justru membuat rival baru dalam pemilihan wali kota selanjutnya. Bahasa jeleknya, memelihara anak macan atau memelihara buaya. Sepertinya demikian,” ujar Budiman.

Dia melanjutkan, jika dalam pemilihan yang digelar di DPRD nantinya Risti yang terpilih, maka akan mendulang simpati masyarakat Balikpapan. Hal ini berkaca dari kejadian yang sama di Berau dan Bontang. Di mana calon bupati Berau Muharam meninggal terpapar Covid-19, kemudian digantikan istrinya, Sri Juniarsih. Sementara calon wali Kota Bontang Adi Darma, digantikan pula oleh istrinya, Najirah. Walhasil, keduanya, mendulang kemenangan dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak 2020 lalu. Sri Juniarsih terpilih menjadi bupati Berau. Sedangkan Najirah terpilih sebagai wakil wali Kota Bontang. Sosok istri dari calon kepala daerah yang meninggal dunia itu, bukanlah kader partai pengusungnya.

“Apakah sosok istri Adi Darma itu kader PDIP? Dan istri dari Muharam kader PKS? Artinya pemilih yang emosional dan memiliki garis ikatan yang tinggi dengan sosok tertentu, setidaknya tidak menimbulkan kekecewaan. Terutama pengikutnya Pak Thohari. Dan akan berlapang dada,” jelasnya. Selain itu, apabila nantinya Rahmad Mas’ud menyetorkan nama Budiono dan Risti, maka PDIP diuntungkan. Mengingat posisi wawali tersebut merupakan jatah untuk PDIP. Sebagaimana kesepakatan seluruh partai pengusung yang memutuskan Thohari Aziz sebagai calon wakil wali kota Balikpapan pada pilkada lalu.

 “Ada kemungkinan begitu, Risti ini adalah representasi Thohari dan Thohari adalah representasi seluruh partai pengusung. Ibarat kata, ketika Risti menjadi representasi partai pengusung, misalnya calonnya adalah Budiono dan Risti, maka partai yang lain, kemungkinan akan memilih Risti. Dan setidaknya jika Budiono kalah, dan Risti yang terpilih, maka ada keterwakilan PDIP. Sehingga PDIP sangat diuntungkan,” jelasnya. Sementara itu, Risti menanggapi santai jika sosoknya sebagai kader PDIP masih disangsikan. Padahal pada pilwali lalu, dirinya berjuang bersama-sama mendampingi Thohari Aziz sejak awal bergabung dengan PDIP, lalu ditetapkan sebagai calon wawali, hingga terpilih menjadi wawali Balikpapan periode 2021-2024.

“Sah-sah aja itu. Dan itu adalah hal biasa. Banyak yang enggak tahu, saya sudah merasakan berjuang bersama-sama almarhum Pak Thohari di PDIP,” kata dia. Perempuan yang juga berprofesi sebagai guru ini menyamakan sosoknya dengan Rizal Effendi, mantan wali Kota Balikpapan periode 2011-2021. Dan juga Heru Bambang, mantan wawali Balikpapan periode 2011-2016. Keduanya bukan kader PDIP, namun tercatat sebagai anggota PDIP. “Kayak Pak Rizal dan Pak Heru Bambang, bukan kader juga dulu. Mereka hanya anggota saja. Jadi enggak ada masalah,” ungkapnya. Dua hari lalu, Ketua DPC PDIP Balikpapan Budiono mengatakan, Risti belum menjadi kader PDIP. Baru sebatas anggota karena belum mengikuti pendidikan kaderisasi yang dilaksanakan PDI Perjuangan. “Bedanya seperti itu. Dikatakan sebagai kader, kalau sudah ikut pendidikan kaderisasi PDIP. Kalau belum, namanya anggota partai,” jelas wakil ketua DPRD Balikpapan itu.

Sebelumnya, Rahmad Mas’ud mengungkapkan, keputusan memilih Risti untuk menghargai perjuangan Thohari Aziz yang sebelumnya mendampinginya pada pilwali lalu. Sehingga keluarga besarnya, yang akrab disapa Bani Mas’ud bersepakat merekomendasikan Risti sebagai bakal calon wawali Balikpapan dari Partai Golkar.

“Ini juga sebagai komitmen kami dengan PDIP. Yang sedari awal sudah bersinergi bersama-sama. Alasan lainnya, kami juga memiliki kepedulian kepada Bu Risti, yang merupakan istri almarhum (Thohari Aziz),” jelasnya saat diwawancarai Kaltim Postdi Balai Kota Balikpapan, Selasa (13/9). Rahmad menegaskan, rekomendasi tersebut juga merupakan komitmennya untuk tetap memberikan porsi keterwakilan PDIP di pemerintahannya. (riz/k16)

 

RIKIP AGUSTANI

[email protected]