Basirun Gangga mengaku tidak pernah pilih kasih dalam melatih. Namun, tegas bila ada anak-anak di bawah asuhannya yang tidak disiplin dan melanggar permainan.

 

M RIDHUAN, Balikpapan

[email protected]

 

PRIA kelahiran Tabalong, Kalimantan Selatan, itu bahkan tidak segan mengeluarkan mereka yang ketahuan merokok. Karena itu dia bersyukur, selama melatih Bima Sakti, sang mantan pemain Timnas Indonesia 1995–2001 tersebut tidak pernah keluar dari jalur didikannya.

“Saya selalu berpesan kepada Bima Sakti. Agar bisa menjaga salat lima waktunya secara kuat. Pun kepada anak asuhnya bisa menerapkan disiplin yang sama. Jangan pilih kasih. Saya juga sudah sampaikan, sepak bola selalu berkembang, apa yang saya ajarkan dulu sudah tidak sama seperti saat ini. Pun kalau ada, ambil yang baiknya saja,” jelas Basirun.

Selain itu, dia sempat bertemu dan melatih Ponaryo Astaman, mantan pemain Timnas Indonesia itu pada medio 1990-an, ketika mantan kapten tim nasional itu hendak mengikuti kompetisi liga sepak bola di Samarinda.

“Waktu itu saya ada buat lapangan bola di perusahaan di Gunung Bakaran. Ketemu Ponaryo waktu itu masih SD. Dititipkan gurunya sebelum ikut kompetisi. Di sana saya lihat anak ini (Ponaryo) memang sudah ada bakat,” lanjutnya.

Pada 28 Agustus lalu, Basirun mendapat kejutan dari Bima Sakti. Bima mengunjungi kediamannya dan memberikan sejumlah cendera mata. Mengucapkan terima kasih dan mendoakannya agar selalu sehat. Karena bagi Bima Sakti, pria yang disapanya “Kak” itu adalah sosok yang berjasa bagi dirinya. Baik selama menjadi pemain hingga kini sebagai pelatih.

“Ini yang kutunggu-tunggu Bim selama 30 tahun. Akhirnya meledak juga. Salam buat Direktur Indra Sjafri dan jajaran PSSI yang berjasa mengangkat derajat anak bangsa di mata dunia. Sukses,” ucap Basirun mengulang pesannya kepada Bima Sakti saat keduanya bertemu.

PRESTASI DI GOLF

Pensiun melatih sepak bola, Basirun banyak fokus ke keluarganya. Menyalurkan hobinya berkebun dan meneliti tanaman. Namun, dia belum meninggalkan dunia olahraga sepenuhnya.

Bahkan jiwa olahraga menular ke sejumlah anggota keluarga. Istrinya, Siti Paulina yang pemain bola voli, menurunkan bakat kepada anak dan cucu. Shakira Ayu Tirta Wijaya, cucu keempat dari anak kelima Basirun menjadi atlet bola voli di perusahaan minyak dan gas BUMN di Balikpapan. Dan kini menimba ilmu di Bandung.

“Anak ketiga saya namanya Harry Muryanto itu mantan Persiba Junior, anaknya sekarang juga main bola dan ikut seleksi U-14 di Borneo FC di Jakarta. Ada juga cucu yang suka menembak dan pernah juara di kelompok umur di Kaltim. Ada juga cucu yang baru belajar panahan,” kata ayah lima anak dan kakek sembilan cucu itu.

Selain sepak bola, Basirun ternyata punya hobi lain, yakni golf. Belajar sejak 2004 di bawah bimbingan H Elmi dan KH Mazuki. Yang diakuinya berjasa hingga kini. Pada 2009, ketiganya dan keluarga sempat bermain di Beijing International Golf Course.

Pada 2010, dia ikut Indonesia Senior Golf Society ASEAN di Filipina. Lanjut pada 2011 di Thailand, kemudian pada 2012 di Kuala Lumpur, hingga 2014 di Singapura. Prestasinya, dua kali juara di Ibnu Sutowo Cup Bali di Handara Bedugul pada 2015 dan 2016.

“Pada 2017 juara BNO (Best Nett Overall) hampir tiga kali. Dulu saya handicap 14. Sekarang karena pandemi turun ke-22,” ungkapnya menunjukkan lemari kaca berisi sejumlah piagam dan piala yang pernah diperolehnya. (rom/k8)