Ismet Rifani

Jurnalis Kaltim Post

 

PANDEMI yang memabukkan dan melelahkan memberi banyak kejutan. Termasuk untuk urusan pemilihan kepala daerah (pilkada) di Kaltim. Dua tahun lalu, dua calon kepala daerah, yakni Adi Darma di Bontang dan Muharram di Berau menyerah pada serangan virus itu justru pada masa-masa krusial.

Tentu saja itu jadi pukulan telak bagi partai pengusung dan para pendukung setia keduanya. Jago mereka yang digadang-gadang, “kalah” sebelum bertanding. Tapi kejutan itu masih berlanjut, ketika sang istri, yakni Najirah Adi Darma di Bontang dan Sri Juniarsih Mas Muharram di Berau menjadi supersub.

Keduanya mengisi tempat yang ditinggalkan suami mereka. Bedanya Najirah memilih menjadi calon wakil wali kota mendampingi Basri Rase. Sementara itu, Sri Juniarsih lebih pede, tampil sebagai calon bupati didampingi Gamalis di kursi nomor dua. Hasilnya? Semua Anda sudah tahu, keduanya terpilih dalam Pilkada 2020.

Kegilaan virus corona juga menabrak Pilkada Balikpapan. Sedikit lebih tragis bahkan. Thohari Aziz, wakil wali kota Balikpapan terpilih, tak pernah sempat dilantik.

Kegembiraan keluarga dan PDI Perjuangan, partai asal Thohari Aziz, berubah cepat menjadi kedukaan karena pria yang dikenal ramah dan dekat dengan konstituennya itu meninggal beberapa saat setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) Balikpapan menyatakan Thohari dan pasangannya, Rahmad Mas’ud, memenangi Pilkada Balikpapan, menyingkirkan kotak kosong, lawannya.

Tapi kejutan itu belum berakhir. Dua hari lalu, Rahmad Mas’ud memberi kabar mengagetkan. Keluarga besar Golkar menurutnya mengusung Risti Utami DN sebagai calon wakil wali kota untuk mengisi kursi yang tak sempat diduduki Thohari.

Risti bukanlah nama populer di Balikpapan. Perempuan berparas manis itu juga bukan anggota legislatif. Risti adalah istri mendiang Thohari.

Satu-satunya alasan kuat mengapa ia dipilih oleh DPD Golkar Balikpapan menurut Rahmad adalah sebagai bentuk penghargaan atas perjuangan suaminya yang berdarah-darah saat proses pilkada dua tahun lalu. Rahmad menegaskan, rekomendasi kepada Risti merupakan komitmennya untuk tetap memberi porsi keterwakilan PDI Perjuangan.

Masalahnya DPP PDI Perjuangan sendiri sudah menyorong kader mereka untuk calon pendamping Rahmad. Yakni, Budiono. Itu ketua partai berlambang banteng di Kota Minyak. Nama Budiono sudah mencuat ke publik sejak awal tahun ini. Ia akan bersaing dengan sejumlah kader partai pengusung lainnya.

Semisal Sabaruddin Panrecalle dari Gerindra, Denni Mappa dari Demokrat, dan Alphard Syarif yang didorong Perindo-PKB. Ada juga nama Sayid MN Fadli yang diusung PKS.

Nama terakhir itu bahkan siap pakai. Sebab, dia sangat berpengalaman di dunia birokrasi, karena sempat menjadi sekkot Balikpapan selama sembilan tahun! Dia juga sempat bekerja sama saat Rahmad menjadi wakil wali kota maupun wali kota.

Masalahnya, ini dunia politik. Saat Rahmad menyatakan Risti adalah pilihan Golkar, maka sesungguhnya ia memberi jawaban atas teka-teki selama ini mengapa Rahmad demikian lama menjomblo, dan terkesan tak ingin cepat-cepat punya pendamping.

Meski sejumlah nama sudah disorong oleh partai pengusung, Rahmad dalam berbagai kesempatan wawancara dengan media selalu menyatakan masih memberi kesempatan kepada semua partai pengusung untuk maju sebagai calon.

Saat nama Risti tak juga dimunculkan, baik oleh PDI Perjuangan maupun partai pengusung lain, DPD Golkar akhirnya memilih memunculkan sendiri nama istri Thohari ini.

Itu jelas sinyal sangat kuat, Risti akan terpilih. Sebab, sejatinya Rahmad-lah yang akan memilih siapa dua nama yang akan jadi calon untuk dipilih di DPRD Balikpapan sebagai pengganti Thohari dengan mekanisme one man one vote.

Rahmad sudah mengungkapkan alasan mengapa Golkar memilih Risti. Tapi karena politik adalah persepsi, sangat wajar jika publik juga menilai Rahmad tampaknya ingin bermain aman. Jika Risti akhirnya terpilih mendampinginya, sangat boleh jadi itu adalah langkah taktis mengamankan posisinya pada Pilkada 2024.

Rahmad bisa dibaca tak ingin menciptakan dua matahari. Sebab, nama Risti tentu kalah populer dengan Fadly atau Budiono.

Sebagai gambaran, hasil survei Brand Politika, konsultan politik yang juga mendampingi Rahmad dalam Pilkada 2020 menunjukkan, dari lima nama yang disurvei untuk posisi wakil, nama Risti ada di posisi ketiga di angka 7,2 persen.

Jauh di bawah nama Budiono di angka 25,8 persen yang berada di posisi teratas. Kader PDI Perjuangan lainnya Eddy S Darmawan (Edi Tarmo) di posisi kedua dengan 9,6 persen. Tapi Risti mengalahkan YP Arita yang meraih 2,6 persen. Nama lainnya Denni Mappa kurang dari 1 persen.

Direktur Brand Politika Eko Satiya Husada menyatakan, nama Risti memang nomor tiga di survei, tapi itu dengan sejumlah catatan.

Risti disebutnya bisa menyalip Arita yang sebenarnya lebih dulu dikenal publik karena posisinya sebagai istri mantan wali kota Rizal Effendi. “Risti belum ngapa-ngapain saja angkanya sudah seperti itu. Kalau sudah dapat panggung, dia layak mendampingi wali kota incumbent pada Pilkada 2024,” kata mantan pemred Indo Pos itu.

Karena itu, menurut dia, pendukung dan pengurus teras PDI Perjuangan harus memelihara Risti sebagai aset. Bukan justru memusuhinya. Soal persepsi bahwa pemilihan Risti adalah langkah kuda Rahmad untuk bermain aman, dan tak bakal ditikung oleh wakilnya dalam Pilkada 2024, menurut Eko sah-sah saja bila publik membaca ke arah sana.

Apalagi pengalaman di Pilkada Balikpapan berkali-kali menunjukkan, duet pasangan wali kota dan wakilnya justru berujung duel dalam pilkada selanjutnya. Imdaad Hamid-Mukmin Faisyal, lalu Rizal Effendi-Heru Bambang adalah contoh nyata.

Terlepas dari itu semua, Najirah, Sri Juniarsih, dan Risti telah memberi kejutan bagi dunia perpolitikan di Kaltim. Apakah kelak Risti bernasib baik seperti duo istri lainnya, mari kita tunggu bersama kejutan selanjutnya. Kalau ada. (rom/k8)

 

[email protected]