JAKARTA-Komisi Kode Etik Polri (KKEP) terus menggelar sidang untuk para polisi terkait kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat yang diotaki eks Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo. Sejauh ini selain Sambo, ada delapan polisi yang sudah menjalani sidang etik dan dijatuhi sanksi.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo juga telah menyampaikan ada 35 polisi yang diduga melanggar etik terkait kasus tersebut. Hal itu disampaikannya dalam rapat bersama Komisi III DPR pada Rabu (24/8). Semua aparat penegak hukum itu masih menunggu antrean untuk disidang.

Hingga kemarin (14/9), ada sembilan polisi yang sudah menjalani sidang dan diberi sanksi. Sanksi yang dijatuhkan majelis mulai penempatan di tempat khusus (patsus) hingga pemberhentian tidak dengan hormat (PDTH).

Di antara mereka ada yang menyatakan menerima atas sanksi yang dijatuhkan dan ada juga yang menyatakan banding. Sembilan orang itu terdiri atas empat tersangka kasus obstruction of justice (perintangan penyidikan) dan lima orang diduga melanggar kode etik.

Dua hari lalu, sidang KKEP memutuskan sopir sekaligus ajudan Sambo, Bharada Sadam dijatuhi sanksi demosi atau pelepasan jabatan dan penurunan eselon selama satu tahun. Bharada Sadam diketahui merupakan pelaku intimidasi terhadap wartawan di sekitar kediaman Sambo.

Ketua Sidang KKEP Kombes Rachmat Pamuji membacakan putusannya dalam sidang tersebut. Dia mengatakan, Bharada Sadam terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar kode etik Polri yang diatur dalam Pasal 5 ayat 1 huruf b dan huruf c Peraturan Polri Nomor 7/2022 tentang Komisi Etik Polri dan Komisi Profesi Polri. “Perbuatan pelanggar dinyatakan sebagai perbuatan tercela,” jelasnya.

Bharada Sadam diwajibkan untuk meminta maaf secara lisan kepada Komisi Etik Polri dan secara tertulis kepada pimpinan Polri. Sanksi kedua berupa sanksi administrasi bersifat demosi selama setahun. “Fakta meringankan pelanggar adalah kooperatif dan di tempat khusus selama 20 hari,” ujarnya.

Kadivhumas Polri Irjen Dedi Prasetyo mengatakan, Bharada Sadam merupakan sopir dari Irjen Ferdy Sambo. Yang pernah melakukan intimidasi kepada jurnalis di awal kasus pembunuhan Brigadir Yosua. “Ya, benar sopir,” ujarnya.

Diketahui bahwa dalam intimidasi terhadap jurnalis tersebut dilakukan oleh tiga orang. Salah satunya, Bharada Sadam. Ketiga pengintimidasi itu melakukan pemaksaan dengan menghapus foto dan informasi yang didapatkan sejumlah jurnalis. (idr/JPG/rom/k16)