SAMARINDA - Tekanan inflasi Kaltim pada triwulan III 2022 diprediksi meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sejalan adanya beberapa penyesuaian tarif yang diatur oleh pemerintah, dalam rangka menjaga momentum pemulihan ekonomi. Selain itu, momen hari besar keagamaan nasional (HBKN) Iduladha dan libur sekolah juga meningkatkan mobilitas serta permintaan masyarakat.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim Ricky P Gozali mengatakan, tekanan inflasi triwulan ketiga datang dari beberapa penyesuaian tarif yang dilakukan pemerintah. Antara lain penyesuaian fuel surcharge yang mendorong tarif angkutan udara untuk meningkat, menjadi 15 persen dari tarif batas atas untuk pesawat jet dan 25 persen dari tarif batas atas untuk pesawat propeller.

“Ada juga penyesuaian tarif dasar listrik bagi pelanggan yang memiliki daya 3.500 VA serta peningkatan tarif LPG nonsubsidi. Ini mendorong tekanan inflasi pada triwulan III,” jelasnya, Selasa (13/9).

Menurutnya, inflasi Kaltim pada triwulan III yang lebih tinggi juga disebabkan oleh faktor base effect di periode yang sama di tahun sebelumnya. Selain itu, adanya momen Iduladha dan libur sekolah pada awal triwulan III 2022 juga turut meningkatkan mobilitas serta permintaan masyarakat di tengah kasus Covid-19 yang masih terjaga di level rendah.

Namun demikian, capaian inflasi yang lebih tinggi diprakirakan akan tertahan oleh masuknya momen panen beberapa komoditas pangan strategis di wilayah sentra produksi. Utamanya cabai rawit dan bawang merah di tengah cuaca yang semakin kondusif pasca melandainya fenomena La Nina yang terjadi pada semester I 2022.

“Keadaan cuaca pada triwulan III 2022 sudah mulai membaik sehingga berpotensi mendorong perbaikan produksi bahan pangan,” ungkapnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi, 95 persen wilayah Indonesia pada triwulan III 2022 tidak terdapat potensi banjir dengan intensitas tinggi dan diprediksi hanya terjadi hujan dengan intensitas rendah dan menengah. BMKG juga memprediksikan bahwa sebagian di wilayah Kaltim tidak ada yang berpotensi banjir tinggi, hanya sebagian wilayah Berau dan Kutai Timur.

Meski masih ada beberapa tantangan yang terjadi pada triwulan ketiga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Kaltim terus memperkuat sinergi dan aksi guna menjaga stabilitas inflasi di Kaltim guna mencegah risiko stagflasi. Pada Juli 2022, telah dilaksanakan Koordinasi TPID se-Kalimantan, dalam rangka membahas perkembangan inflasi dan strategi pengendaliannya.

Telah dilaksanakan pula High Level Meeting Kota Samarinda, sidak pasar Kota Samarinda menjelang HBKN Iduladha 1443 H, dan sidak pasar oleh Menteri Perdagangan dalam rangka memantau perkembangan program minyak goreng curah rakyat (MGCR), dan barang kebutuhan pokok lainnya di pasar tradisional serta melakukan peninjauan proses produksi dan distribusi minyak goreng.

“Selain itu, dilakukan berbagai upaya lain. Seperti pemantauan harga secara harian serta membangun kerjasama antar daerah sentra produksi bagi komoditas inflasi di Kaltim,” pungkasnya. (ndu/k15)

Catur Maiyulinda

@caturmaiyulinda