JAKARTA-Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman memperkirakan inflasi akan terus meningkat di semester II 2022. Disebabkan oleh membaiknya permintaan (demand-pull inflation), ditambah dengan kenaikan harga bahan makanan dan energi (cost-push inflation). Selain itu, inflasi indeks harga produsen (IHP) yang berada di atas inflasi IHK, memberikan risiko inflasi sisi penawaran yang diteruskan ke inflasi sisi permintaan. 

Tekanan inflasi itu akan bertahan dan meningkat ke depan. Apalagi setelah pemerintah memberikan sinyal untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), yakni pertalite dan solar. Dampaknya penyesuaian harga tersebut bakal cukup besar. 

Sebab, tidak hanya berdampak pada putaran pertama pada inflasi administered price. Tapi juga berdampak pada putaran kedua pada transportasi, barang, dan jasa lainnya. “Ini berarti inflasi inti dapat memanas secara signifikan setelah kenaikan,” ujarnya. 

Perhitungannya, jika harga pertalite dinaikkan dari Rp 7.650 per liter menjadi Rp 10 ribu per liter, maka akan meningkatkan inflasi sebesar 0,83 persen dan berpotensi memangkas pertumbuhan ekonomi minus 0,17 persen. Sedangkan, jika harga solar naik dari Rp 5.150 per liter menjadi Rp 8.500 per liter, akan memberikan kontribusi kenaikan inflasi sekitar 0,33 persen dan berpotensi menurunkan pertumbuhan minus 0,07 persen.  

“Oleh karena itu, kami melihat BI masih memiliki ruang untuk menaikkan BI7DRR hingga 50 basis poin, maksimal 4,25 persen di sisa tahun 2022,” tandasnya. (wan/lyn/han/jpg/far)