Banjir besar melanda Pakistan setelah danau terbesar di negara itu meluap. Banjir yang melanda pada Minggu (4/9) memaksa 100 ribu orang mengungsi.

 

ISLAMABAD–Ketinggian air di Danau Manchar yang terletak di Provinsi Sindh Tenggara mencapai tingkat yang sangat tinggi. Sekretaris Khusus Irigasi Pakistan Jamal Mangan, mengatakan air dari danau mengalir ke distrik terdekat Jaffarabad dan Bubak, dengan tujuan menyelamatkan kota-kota berpenduduk lebih banyak di Sindh, termasuk Sehwan, Dadu dan Bhan Syedabad, dari banjir terburuk.

Rekor curah hujan di Pakistan dan mencairnya gletser di pegunungan utara negara itu telah memengaruhi 33 juta orang atau 15 persen dari populasinya.

Jutaan Anak Terancam Penyakit. Sepertiga wilayah Pakistan tertinggal di bawah air setelah mengalami hujan terbesar, menurut citra satelit dari Badan Antariksa Eropa (ESA). Beberapa daerah mengalami curah hujan lima kali lipat dari biasanya.

Sebanyak 3 juta anak-anak sekarang membutuhkan bantuan kemanusiaan yang mendesak di seluruh Pakistan karena meningkatnya risiko penyakit yang ditularkan melalui air dan kekurangan gizi. UNICEF memperingatkan kejadian itu dalam sebuah pernyataan.

Beberapa lembaga bantuan internasional mulai berdatangan di Pakistan yang dilanda banjir. Bantuan terdiri dari makanan, air bersih, dan obat-obatan yang sangat dibutuhkan. “Ini tidak akan berakhir dalam dua bulan,” kata pejabat departemen kesehatan Pakistan dr Deedar Hussain.

Dia khawatir akan wabah penyakit yang ditularkan melalui air jika air banjir tidak surut cukup cepat. Banyak pasien yang datang sampai 16 ribu pasien (dari seluruh kabupaten).

“Kebanyakan pasien menderita alergi karena air (banjir), dan ada pasien yang menderita diare dan demam. Juga ada pasien adalah pasien yang menderita malaria saat kami melakukan tes parasit malaria pada mereka,” kata Hussain kepada Reuters.

Aurélie Godet, petugas pers dengan Médecins du Monde, mengatakan anak-anak datang ke klinik mereka dengan luka parah pada kaki mereka karena tidak memiliki sepatu. Dan dia mengatakan beberapa orang tidak mampu membeli obat biasa karena kenaikan harga yang juga membuat makanan menjadi mahal, bahkan di luar daerah banjir. “Harganya empat kali lipat dari harga pasar. Mereka tidak mampu makan,” katanya.

Perdana Menteri Shehbaz Sharif mengatakan itu adalah banjir yang terburuk dalam sejarah negara itu. Dia memperkirakan bencana itu telah menyebabkan kerusakan infrastruktur, rumah, dan pertanian lebih dari USD 10 miliar. Menurut badan amal Action Against Hunger, 27 juta orang di negara itu tidak memiliki akses makanan yang cukup sebelum banjir. Kini risiko kelaparan semakin meluas. (jpc/luc/k8)