Eropa khawatir akan dilanda krisis energi pada musim dingin setelah pemasok energi Rusia Gazprom memperpanjang penutupan aliran gas yang telah diberlakukan melalui pipa utama Nord Stream 1 ke Jerman. Pipa gas sekarang telah ditutup dua kali sejak invasi Rusia ke Ukraina yakni selama 10 hari bulan Juli sampai batas waktu tak ditentukan.

Dilansir dari The Guardian, Minggu (4/9), Gazprom mengatakan pasokan akan dihentikan tanpa batas waktu setelah kebocoran terdeteksi di pipa dan tidak akan dimulai kembali sampai perbaikan dilakukan. Langkah itu dilakukan beberapa jam setelah negara-negara G7 setuju untuk mengenakan batasan harga pada minyak Rusia untuk membendung dana bagi rezim Vladimir Putin dan invasinya ke Ukraina.

Sebetulnya aliran melalui pipa telah dijadwalkan untuk dilanjutkan kemarin setelah 3 hari terhenti. Tetapi beberapa jam sebelum gas akan dipompa, Gazprom menerbitkan foto yang kebocoran minyak pada peralatan Nord Stream 1.

Raksasa perusahaan energi Rusia, Gazprom, menemukan adanya kebocoran gas pada stasiun kompresor di Portovaya. Makanya, Gazprom menutup sementara pipa gas Nord Stream 1 sejak Rabu (31/8) untuk dilakukan pemeliharaan.

Rencananya, gas akan mulai disalurkan kembali melalui pipa tersebut, namun rencana tersebut belum dilakukan. Kremlin juga menyalahkan sanksi barat karena mengganggu Nord Stream 1.

Uni Eropa Tak Takut pada Putin

Ditanya tentang dampak penghentian pasokan, komisaris ekonomi Uni Eropa, Paolo Gentiloni, mengatakan Uni Eropa mengharapkan Rusia untuk menghormati kontrak energi yang telah disepakati. Penyimpanan gas saat ini sekitar 80 persen berkat diversifikasi pasokan. Taktik Vladimir Putin telah membuat Inggris dan Eropa panik.

“Kami tidak takut dengan keputusan Putin; kami meminta Rusia untuk menghormati kontrak, tetapi jika tidak, kami siap untuk bereaksi,” kata Gentiloni. (jpc)