SAMARINDA-Pusat Pengembangan Kelembagaan dan Pengabdian Masyarakat di Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (P2PKM-LP2M) Universitas Mulawarman (Unmul) bersama Dinas Kesehatan (Diskes) Kaltim dan UNICEF Indonesia menggelar Webinar Peran Perguruan Tinggi dalam Menyukseskan Program Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) 2022. Webinar tersebut digelar melalui Zoom Meeting dan kanal Youtube KKN Unmul, Kamis (7/7).

Narasumber yang hadir dalam webinar tersebut di antaranya Mimi Suryani, SKM selaku pengelola imunisasi Diskes Kaltim, dan Koordinator Provinsi Kaltimtara UNICEF Indonesia Ghofur Hariyono, Ners, MHKes. Dihadiri pula oleh seluruh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Unmul, dosen pembimbing lapangan (DPL), serta pejabat pemerintah desa.

Ketua LP2M Unmul Anton Rahmadi dalam sambutan pembuka mengucapkan terima kasih kepada UNICEF karena telah mempercayakan Unmul untuk mengawal program dunia terkait sustainable development goals yang dikelola UNICEF dan pemprov, dalam tujuan pembangunan berkelanjutan.

“Jadi kegiatan seperti ini sangat penting, seperti pendataan dan mencari informasi yang akurat, karena punya beberapa permasalahan terkait data yang terupdate,” ucap Anton.

Dari segi struktural, lanjut Anton, pemerintah sudah punya data yang bagus, namun Unmul membantu mengupdate data tersebut yang akan dipergunakan untuk analisis kebijakan dan pencapaian serta sosialisasi masyarakat atau ke sekolah dan sebagainya, terkait dengan capaian-capaian yang diinginkan bagi Indonesia secara keseluruhan. “KKN kali ini agak spesial, karena topik mengenai IKN itu sangat mengemuka. Saat ini saya mewakili seluruh penulis di Asia sedang membuat buku tentang capaian sustainable development goals di bidang pendidikan. Unmul dipercaya untuk mewakili tingkat Asia,” terang Anton.

Dia berharap semoga webinar ini dapat diikuti mahasiswa dengan baik, untuk kegiatan KKN yang sedang dijalankan. Diharapkan bisa memberikan kesan yang berarti bagi masyarakat Kaltim. Webinar tersebut dipandu oleh moderator Dr Ike Anggraeni, SKM, MKes yang merupakan dosen dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Unmul. Dalam penyampaiannya Ike menerangkan bahwa pandemi Covid 19 telah mengakibatkan cakupan imunisasi rutin lengkap anak menjadi rendah, baik dari data global, WHO yang menurun di 2019, dari 86 persen menjadi 83 persen di 2020.

“Jika dikuantifikasi, ada 3,4 juta anak tidak lengkap imunisasinya. Demikian hal dengan data di Indonesia, menurut Kemenkes RI, cakupan imunisasi dasar lengkap telah menurun secara signifikan bahkan sejak pandemi covid, dari 84,2 persen menjadi 79,6 pada 2021,” jelas Ike. Beberapa hal yang menjadi penyebab menurunnya imunisasi yakni pembatasan kegiatan, berkurangnya ketersediaan tenaga kesehatan, dan sebagainya. Survei dari Kemenkes dan UNICEF, menemukan setengah dari orangtua yang disurvei enggan membawa anak ke fasilitas kesehatan karena khawatir tertular covid atau protokol kesehatan yang tidak tepat.

Dalam rangka mengejar turunnya cakupan tersebut, pemerintah menggelar bulan imunisasi anak nasional BIAN dalam rangka pekan imunisasi dunia. Diperlukan peran semua pihak dalam menjalankan imunisasi demi tercapainya generasi penerus bangsa yang sehat dan berkualitas.

“Termasuk dari perguruan tinggi juga berperan sehingga dapat terwujud cakupan imnuisasi yang lebih baik. Bagaimana peran dan keterlibatan perguruan tinggi untuk menyukseskan program Bian 2022,” ungkap Ike. Selanjutnya pemaparan materi mengenai imunisasi oleh Mimi Suryani. Mimi membahas mengenai pentingnya imunisasi, jenis imunisasi, jadwal rutin imunisasi hingga penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

“Jadi bisa kita bayangkan penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dengan imunisasi, namun karena kita tidak melakukan imunisasi kepada bayi, sehingga bisa memiliki kondisi cacat hingga seumur hidup. Kita tentu ingin punya generasi yang ingin memiliki sehat cerdas yang bisa menjadi investasi masa depan. Imunisasi ini terbukti sangat cost effective karena lebih murah daripada mengobati, serta melindungi anak-anak Indonesia terhadap penyakit,” terang Mimi.

Selanjutnya pemaparan dari perwakilan Unicef Indonesia Ghofur Hariyono, yang menerangkan pada Mei lalu ada program bulan imunisasi anak nasional. “Jadi cakupan imunisasi pada balita menurun karena lebih fokus ke Covid-19 selama dua tahun. Nah ini yang perlu penguatan kembali dari sisi imunisasi rutin, agar tidak terjadi kejadian luar biasa dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Kami berharap dukungan dari teman-teman mahasiwa dan lintas sektor, untuk sama-sama menyukseskan program BIAN 2022,” ucap Ghofur. (*)