SAMARINDA – Warga Jalan Sukerejo, Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara, yang dipicu adanya penambangan batu bara ilegal di lingkungan mereka semakin geram, (6/7).

Amarah warga sekitar membuncah dan ramai-ramai mendatangi lokasi tambang ilegal di lingkungan RT 42, yang persis berada di pinggir jalan, dan tak jauh dari lokasi penambangan pertama yang telah ditutup, Maret lalu. Salah seorang tokoh masyarakat yang turut menolak keberadaan tambang ilegal perusak lingkungan itu adalah Pujani. Dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Pujani menyebut akan ada pertemuan antara pihak penambang dengan warga setelah ditutup. "Kesepakatan untuk sementara berhenti dulu. Itu sepertinya sama dengan penambang lama," ujarnya.

Meski terbilang baru sepekan penambangan liar itu dilakukan. Namun, di lokasi sudah terdapat gunungan batu bara yang siap angkut dan dijual. "Mereka belum hauling. Belum buat jalan, baru mengeruk. Tapi sudah menumpuk batu baranya," ujar tambahnya.

Kemarahan warga itu diduga tidak lepas dari izin penambang yang sebelumnya mengatakan mau membuat lapangan voly namun tenyata membuat jalan. "Disamping pondok pesantren itu informasinya. Tapi ternyata mau dibuat jalan hauling," tegasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Lurah Lempake Nurharyanto mengaku belum mendapat laporan mengenai adanya aksi protes warganya terkait keberadaan penambangan batu bara. "Tapi kalau di situ. Samping pondok memang ada (penambangan batu bara). Saya belum pernah laporkan, baru melihat saja. Itu biasanya ada kerja sama dengan warga di situ juga. Coba tanya ke pak RT," singkatnya.

Sayangnya Ketua RT 42 Paino yang coba dikonfirmasi melalui telepon dan pesan WhatshApp belum memberikan respons. Bahkan, kabar yang diterima harian ini, lokasi tersebut dijaga sekelompok orang yang tak diketahui dari mana asalnya.  (timkp)