SAMARINDA–Sebuah video berdurasi singkat yakni 1 menit 26 detik di halaman RSUD AW Sjahranie menyebar lewat pesan berantai grup WhatsApp (WA). Dalam gambar bergerak itu, beberapa ambulans berjejer di area instalasi rawat jalan (irja).

Kepala Instalasi Humas dan PKRS RSUD AW Sjahranie dr Arysia Andhina menuturkan, sebenarnya fungsi brankar adalah alat untuk memindahkan pasien yang mengalami ketidakmampuan, keterbatasan, tidak boleh melakukan sendiri, atau tidak sadarkan dari tempat tidur ke brankar yang dilakukan dua atau tiga perawat.

“Kalau di video itu disebutnya kan kekurangan brankar. Sebenarnya enggak akan kekurangan kalau setelah dipindahkan dari ambulans langsung dibawa aja lagi. Penggunaan brankar itu tidak untuk pasien sebagai tempat tidur. Lebih ke fungsi darurat atau pasien disabilitas,” ungkapnya.

                Menurut dokter perempuan yang gemar dengan artis-artis Korea itu, Brankar sejatinya berfungsi memudahkan dan tidak dipakai selama berjam-jam. “Ada satu pasien dipakai berjam-jam. Beberapa ada yang enggak paham dengan penggunaan brankar. Kan enggak mesti sampai dibawa ke dalam,” tegas dokter yang akrab disapa Sisi itu. Sesuai persyaratan rumah sakit tipe A dan mengacu Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 3/2020 tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit, rumah sakit wajib menyediakan sarana dan prasarana bagi pasien.

“Kami sudah menjalankan segala SOP soal brankar. Sebenarnya kan kalau aktivitas di irja enggak perlu pakai brankar. Tapi ini dibawa keliling, berobat, menunggu obat juga. Padahal, ada lho brankar rumah sakit yang standby,” tegasnya. Termasuk penggunaan kursi roda. Sisi menilai tahun-tahun sebelumnya memang tak ada masalah dengan brankar. “Tapi ke sini-sini kok malah makin banyak. Brankar yang punya relawan itu akhirnya sampai dalam karena melihat di depan enggak ada. Padahal kalau pasien dan keluarga yang mendampingi paham, pemakaian brankar itu seharusnya setelah memakai langsung dikembalikan, tapi kami sering menemukan diletakkan sembarangan,” bebernya.

                Sisi menyebut, ada mekanisme yang lebih ketat nantinya diberlakukan di pelayanan irja, dengan alur peminjaman yang jelas. “Jadi ada petugas POS (pengantar orang sakit) yang mengawal, jika brankar yang disiapkan untuk pasien sudah terpakai semua, petugas itu harus mengantar pasien lain yang membutuhkan bantuan dengan menggunakan brankar khusus, yang hanya boleh dipergunakan dengan bantuan petugas pos,” tegasnya. Dia menegaskan, nantinya memperketat penggunaan brankar di area pelayanan irja. (dra/k8)