SAMARINDA-Bertempat di Kantor Wilayah Kemenkumham Kaltim, Jalan Letjen MT Haryono, Samarinda, digelar Workshop Penyelesaian Subtantif Paten bagi para inventor  di Kaltim. Berbagai perwakilan perguruan tinggi hadir, termasuk dari Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda.

Pada pengelolaan pascapendaftaran paten dengan perguruan tinggi/litbang/pelaku usaha di kantor wilayah, diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (KI), pada 27-30 Juni 2022. 

Kepala Kantor Wilayah Kemenkumham Kaltim Sofyan SSos, SH, MH mengatakan tujuan dari pelaksanaan kegiatan ini agar dokumen paten sudah tersusun baik sesuai dengan perundangan-undangan yang berlaku. 

Disampaikan Sofyan, paten yang paling cepat adalah hak cipta. Ada tiga pilar KI yakni komersialisasi, penegakan hukum dan filing. Semua yang bernilai ekonomis atau komersialisasi wajib didaftarkan di KI. 

“Karena jika tidak daftar, akan sia-sia semua itu. Apalagi menyangkut paten ini, ketika inventor menemukan obat yang bisa membuat kita terbang misalnya, atau mesin yang bisa cuci gosok langsung, itu semua cuan, karena dunia akan memakai itu,” terangnya. 

Namun perlu diketahui bagaimana keseriusan pemerintah untuk memodali para inventor untuk bisa menemukan hal-hal yang baru. Ketika ini dilindungi oleh negara, semua akan berlomba-lomba. 

Salah satu inventor yang hadir dalam kegiatan tersebut Dr Odit Ferry Kurniadinata, SP MSi. Dosen Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman itu mengatakan bahwa dari kegiatan tersebut sebenarnya banyak ide produk yang mungkin sudah jadi harusnya diarahkan ke paten. Terutama ide dan produk yang sudah dihasilkan yang semuanya berdasarkan hasil-hasil riset. 

“Karena saya dari fakultas pertanian, maka yang akan saya patenkan terkait dengan komoditas tanaman purun di Kaltim. Sebenarnya sudah lama dari 2018, kemudian baru saja Menteri Sandiaga Uno para rapat PBB Mei 2022 lalu menyampaikan soal tanaman purun ini. Padahal di Kaltim juga ada banyak potensi dari tanaman purun. Ini lah yang mendorong saya untuk harusnya mengangkat potensi tanaman purun yang ada di Kaltim. Baik dari jenis tanaman itu sendiri sampai ke produk yang bisa diangkat,” katanya. 

Odit berharap bisa mencoba mematenkan produk sendiri dari Kaltim, selain itu semoga kegiatan ini dapat mendorong ide dan produk lain yang sepatutnya dipatenkan, supaya memastikan legalitas secara hukum bahwa para inventor itulah yang memiliki ide dan lainnya. (arina/far)