Tren investor yang membanjiri klub di lima liga elite Eropa mengalami pergeseran. Dari taipan negara-negaraTimur Tengah beralih ke miliarder asal Amerika Serikat (AS).

  

SELAMA empat tahun terakhir, ekspansi investor asal AS makin membanjiri klub-klub Eropa. Di Premier League saja, separo di antaranya (10 klub) punya investor asal Negeri Paman Sam. Perkecualian untuk Bundesliga yang memiliki aturan unik 50+1 (suporter dan klub menjadi pemegang saham mayoritas) sehingga tidak ramah bagi investor asing.

Tahun ini, sudah ada tiga klub yang menerima investor AS sebagai pemodal mereka. Antara lain Todd Boehly di Chelsea dan klub peraih scudetto Serie A AC Milan yang dimiliki oleh RedBird Capital Partners. Yang terbaru, Rabu (22/6), Olympique Lyon (OL) menuntaskan pengalihan saham mayoritas oleh John Textor dari Jean-Michel Aulas.

Textor bukan pemain baru dalam investasi klub sepak bola. Pria 56 tahun itu merupakan pemegang saham mayoritas di Crystal Palace sejak tahun lalu serta telah membeli 90 saham klub Brasil Botafogo di awal tahun ini.

”Pengunduran diri mendadak dari Pathe dan IDG (dua pemegang saham OL sebelumnya, Red) kini bisa digantikan oleh Textor yang memiliki ambisi serupa untuk kebanggaan OL di masa depan,’’ tutur Aulas kepada The Athletic. Aulas yang telah memiliki OL sejak 1987 itu tetap dipercaya sebagai presiden oleh Textor.

Masuknya Textor ke Ligue 1 membuat investor AS di kompetisi tertinggi Prancis itu adi tiga. Sebelumnya ada Frank McCourt bersama Olympique Marseille dan RedBird bersama Toulouse FC. Khusus RedBird, perusahaan investasi yang didirikan oleh Gerry Cardinale itu juga menjadi salah satu penyuntik dana di Liverpool FC.

Kepada Sempre Milan, Cardinale mengungkapkan alasan ketertarikan RedBird menanamkan uang sampai ke tiga klub Eropa. Liga yang kompetitif dan glamor tentu saja alasan utama. Selain itu, ajang antarklub Eropa bergengsi dan prestise seperti Liga Champions dianggap seksi di mata investor AS. Itulah sebabnya, UEFA sampai membuat ajang antarklub kasta ketiga (Liga Konferensi Europa) sejak musim lalu. Pertimbangannya tentu saja meraup nilai komersial yang belum tergarap.

Nilai tambah sepak bola Eropa bagi mata investor AS juga menyangkut hitung-hitungan finansial yang lebih jelas. Bahkan, bisa diperkirakan sebelum musim baru bergulir. Prize money dan nilai komersial dari hak siar televisi jadi tolok ukurnya. Klub dengan tradisi juara seperti Real Madrid, misalnya, bisa meraup hingga Rp 1 triliun per musim hanya dari prize money.

”Di Eropa jauh lebih mudah menemukan cara untuk menjadikannya (sepak bola, Red) sebagai bisnis yang nyata. Salah satu kuncinya ada di bursa transfer. Jika Anda bisa kuat di sana, maka bisnis Anda akan lebih efisien,’’ beber investor AS Jordan Gardner yang memiliki klub kasta kedua di Denmark, FC Helsingor, dalam wawancara dengan ESPN. (io/dns)