Kutai Kartanegara terdapat banyak kelompok tani. Ketika di kota-kota besar profesi petani mulai mati, ternyata di Handil Baru Darat kaum perempuannya mulai tekun menggeluti dan membentuk kelompok wanita tani (KWT).

ULIL MUAWANAH, Balikpapan

PEREMPUAN yang dulunya tidak mempunyai pekerjaan dan pendapatan sendiri, atau hanya mengandalkan pemberian suami sebagai ibu rumah tangga, sekarang sudah mulai unjuk gigi. Mereka mulai mandiri. Mendapatkan uang sendiri dari hasil bertani. Dan Kelompok Wanita Tani atau KWT Stroberi adalah salah satu yang mulai berkembang.

Juni 2020, KWT Stroberi yang sekarang beranggotakan puluhan perempuan tersebut terbentuk. Khurotin didapuk sebagai ketua kelompok tersebut. Di bawah binaan Eni Muara Bakau. “Semenjak mendapat dukungan dari Eni Muara Bakau, usaha tani yang dirintis dua tahun lalu mulai membuahkan hasil,” ujar Khurotin, Selasa (21/6).

Tidak hanya pelatihan, Khurotin mengatakan pihak Eni membangunkan green house seluas setengah hektare yang terletak di Handil Baru Darat, Samboja, Kutai Kartanegara agar bisa dimanfaatkan sebaik mungkin. Aneka sayur hingga buah-buahan termasuk stroberi yang menjadi ikon kelompok itu ditanam dan tumbuh subur.

Beranggotakan 25 orang, semangat dan solid adalah kunci kesuksesan mereka. Dari berbagai latar belakang, tanpa batas usia, bahkan ada yang telah berusia lebih 60-an tahun juga memilih ikut bertani. Suka bercocok tanam ialah awal mula dari segalanya. Terlebih di masa pandemi, pendapatan masyarakat sempat merosot juga menjadi korban pemutusan hubungan pekerjaan (PHK).

Usaha tani terbukti tidak bisa dipandang sebelah mata, sebab kala jenis usaha lain merosot, petani tetap bisa menghasilkan cuan. Sehingga, menjadi wadah positif pemberdayaan masyarakat, terutama bagi perempuan.

Mendapatkan nilai ekonomis. Keberadaan petani lokal boleh dikatakan sebagai aset ketahanan pangan pula. “Dengan bertani perempuan jadi lebih produktif, ketimbang menganggur dan di rumah saja,” ucap pensiunan guru tersebut.

Dirinya lantas membeberkan, beberapa sayuran memang tengah mengalami kenaikan harga. Seperti harga lombok yang ditanam KWT Stroberi sekarang telah mencapai Rp 80 ribu per kg, sawi Rp 15 ribu per ikat, dan selada Rp 40 ribu. Walau menaik, dikarenakan komoditas tersebut adalah bahan pokok, banyak pedagang ataupun masyarakat datang buat membeli.

Rata-rata sayuran tersebut dipanen setelah dua pekan. Di mana, masing-masing sayuran dapat mencapai 40 kg sampai 50 kg sekali panen. “Alhamdulillah, petani tidak perlu membeli. Kesejahteraan keluarga juga terpenuhi,” celetuknya.

Tidak hanya bertani, anggota KWT Stroberi juga membuat kerajinan tangan. Seperti tas hasil daur ulang limbah plastik, penggunaan limbah serabut kelapa sebagai dekorasi, ataupun pelepah pisah yang dikeringkan menjadi kotak tisu.

Anggota mengerjakannya di rumah masing-masing, lalu dibawa ke sentra. Di hari biasa, memang tidak banyak orang datang berkunjung buat membeli, namun saat ada event atau kegiatan itu menjadi kesempatan bagi mereka meraup rezeki melimpah. Terlebih dengan menjadi binaan Eni Muara Bakau, diberi kesempatan buat eksplorasi ke beberapa kota ataupun daerah lainnya, sekaligus buat memperlebar market pasar.

Perempuan kelahiran September 1959 itu juga menuturkan, untuk kerajinan dibanderol mulai puluhan sampai ratusan ribu ribu. Yang menarik terdapat sebuah kaligrafi pada labu botol (holo), harganya bisa mencapai Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu.

Holo atau labu botol, karena bentuknya mirip botol, dengan daging berwarna putih seperti labu siam sehingga sering dikonsumsi sebagai sayur. Sayuran ini juga dibudidayakan KWT Stroberi.

Dikarenakan banyaknya kandungan air, masyarakat juga menyebutnya sebagai labu air. Tanaman bernama ilmiah Lagenaria siceraria tersebut dipercaya mampu mencegah sembelit, perut kembung, dan obat kolesterol sebab mempunyai kandungan serat tinggi dan vitamin.

Berbeda dengan semangka maupun labu pada umumnya, holo mempunya kulit yang cukup keras dan mulus ketika kering. Warnanya yang hijau ketika matang atau setelah dikeringkan memiliki rona kuning keemasan.

Inilah sebabnya labu ini bisa digunakan sebagai wadah minuman. Yang membuat teringat dengan film-film laga Tiongkok lawas, yang menampilkan Jackie Chan karena kerap membawa botol labu sebagai tempat minuman arak zaman dulu.

Melihat bentuknya yang unik itulah Khurotin tertarik. Selain dijadikan kaligrafi, dijadikan pula hiasan lampu maupun tempat bunga. “Kami sendiri berharap semoga semakin banyak perempuan mau bisa bergabung, supaya kita bisa lebih mandiri dan mapan secara finansial,” pungkasnya. (ndu/k15)

Ulil Muawanah

[email protected]