SAMARINDA - Transaksi masyarakat melalui e-commerce di Kaltim pada triwulan I 2022 menunjukkan perbaikan. Jika dilihat dari frekuensinya, transaksi e-commerce tumbuh sebesar 15,75 persen (year on year/yoy) atau melanjutkan pertumbuhan positif di triwulan sebelumnya sebesar 2,82 persen (yoy). Terus tumbuhnya transaksi belanja online membuktikan pasar digitalisasi potensial untuk digarap.

Berdasarkan porsinya se-Kalimantan, frekuensi transaksi e-commerce di Kaltim pada periode tersebut memiliki porsi 17 persen. Lebih lanjut berdasarkan jenis produk yang dibeli, transaksi e-commerce oleh masyarakat Kaltim didominasi oleh produk elektronik dengan porsi 27 persen, disusul fashion sebesar 26 persen, serta kebutuhan rumah tangga dan kantor sebesar 20 persen.

Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Kaltim Dayang Donna Faroek mengatakan, tumbuhnya transaksi belanja online membuktikan bahwa Kaltim juga memiliki potensi digitalisasi yang luar biasa.

Memang semenjak Covid-19, belanja online berperan signifikan dalam transformasi digital. Kadin Indonesia mencatat, lebih dari 74 persen konsumen di Indonesia memilih belanja secara online. Ini yang membuat transaksi e-commerce terus meningkat. “Saat ini, ekonomi terus melanjutkan perbaikan. Tentunya konsumsi masyarakatnya juga terus membaik, sehingga berdampak pada pertumbuhan sektor-sektor ekonomi,” jelasnya, Senin (20/6).

Perkembangan zaman disebutnya telah membuat pergeseran yang disebabkan perkembangan teknologi. Hal ini membuat cara berdagang juga bergeser, terutama cara berbelanja. Sudah banyak masyarakat yang berbelanja secara online karena mudah dan murah. Begitu juga di Kaltim, sehingga terjadi pertumbuhan belanja online.

Kemajuan teknologi informasi yang membuat bergesernya pola belanja masyarakat itu, bisa dimanfaatkan dengan baik oleh pengusaha kecil yang selama ini hanya mengandalkan model konvensional.

Peningkatan transaksi e-commerce di Kaltim membuat ekonomi digital kian menggeliat. Hal ini, turut serta membuat banyak perusahaan berbasis teknologi yang menjadi tren baru di masa sekarang. Indonesia tercatat telah memiliki lebih dari 2.300 start-up dengan 11 perusahaan start-up yang sudah berstatus unicorn.

Sehingga, itu bukan hal yang mengherankan kalau saat ini Indonesia menjadi negara dengan ekonomi digital besar di Asia Tenggara. Selain itu, belanja bisnis online atau dalam jaringan yang marak sejak awal 2017 ini, juga terbukti meningkatkan daya beli masyarakat karena lebih murah dan mudah. Apalagi saat pandemi.

“Wajar saja jika belanja online terus meningkat, sebab memang belanja online lebih murah dan mudah. Masyarakat tentunya akan memilih transaksi yang lebih mudah,” pungkasnya. (ndu/k15)

Catur Maiyulinda

@caturmaiyulinda