BONTANG - Pemerintah melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang, melakukan monitoring dan evaluasi (monev) serta upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit menular. Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari yaitu 14-16 Juni 2022, dengan pemberian materi yang berbeda-beda kepada peserta, di Hotel Bintang Sintuk.

Pada hari pertama Dinkes Bontang monev pemberantasan penyakit bersumber binatang (P2B2). Seperti penyakit yang ditularkan oleh binatang khususnya dari nyamuk Aedes Aegipty yang dapat menimbulkan penyakit demam berdarah dengue (DBD) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat dan menimbulkan dampak sosial maupun ekonomi.

Berdasarkan data Dinkes Bontang, jumlah kasus yang dilaporkan cenderung meningkat dan daerah penyebarannya bertambah luas. Kerugian sosial yang terjadi antara lain karena menimbulkan kepanikan dalam keluarga, kematian anggota keluarga, dan berkurangnya usia harapan hidup penduduk.

“Dampak ekonomi secara tidak langsung adalah kehilangan waktu kerja, waktu sekolah dan biaya lain seperti transportasi dan akomodasi selama perawatan penderita,” kata Kepala Dinas Kesehatan Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati. Mengingat, lanjut Toetoek, vaksin untuk mencegah dan obat untuk membasmi virusnya belum tersedia, maka cara yang dapat dilakukan sampai saat ini ialah dengan memberantas nyamuk penularnya (vektor).  

Pemberantasan vektor dapat dilakukan terhadap jentik nyamuk Aedes Aegepty maupun nyamuk dewasa. Upaya penanggulangan DBD dilaksanakan sejak tahun 1968, namun diprogramkan secara teratur sejak tahun 1994 dengan dibentuknya Subdit Arbovirosis di Kementerian Kesehatan. Sejak tahun 1989-1990 dilaksanakan pemberantasan DBD secara terpadu yaitu terdiri dari penanggulangan fokus, fogging massal sebelum masa penularan dan larvasidasi setiap tiga bulan di kelurahan-kelurahan endemis.  

Hingga saat ini, upaya pemberantasan DBD di Indonesia pada umumnya dan Kalimantan Timur pada khususnya belum berhasil secara keseluruhan, sehingga penyakit ini masih endemis di berbagai daerah dan kejadian luar biasa (KLB) masih sering terjadi. Tahun 2022 hingga bulan Juni, angka kejadian kasus penyakit DBD menunjukkan bahwa Bontang masih di bawah target nasional, yakni (IR = 49/100.000 penduduk) yaitu sebesar 220 kasus (IR = 120/100.000 penduduk).  

Kegiatan Monev P2B2 tersebut dimaksudkan agar setiap unsur lintas program atau sektor memahami dan dapat berperan aktif. Selain itu, meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengendalian penyakit bersumber binatang. Juga menurunkan angka kesakitan serta kematian kasus akibat penyakit bersumber dari binatang.  

Memasuki hari kedua, Dinkes Bontang melaksanakan bimbingan teknis (bimtek) dengan memberikan materi seputar Tuberkulosis (TBC). Penyakit ini merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis (Mtb). Tuberkulosis ditularkan melalui udara dari pasien TBC yang infeksius ke orang-orang disekitarnya.  

Satu pasien TBC terkonfirmasi bakteriologis yang tidak diobati secara tepat dan berkualitas dapat menginfeksi sekitar 10 orang per tahun. Sekitar 3,5-10 persen orang-orang yang kontak akan sakit TBC, dan sekitar sepertiganya akan terinfeksi tetapi tidak sakit TBC.

 

Kelompok yang berisiko tinggi untuk terinfeksi adalah orang yang kontak erat dengan pasien TBC, antara lain anak, lansia dan orang dengan gangguan sistem kekebalan tubuh (misal gizi buruk, infeksi HIV, DM). Di antara orang-orang yang terinfeksi ini, 5-10 persen kemungkinannya akan berkembang menjadi sakit TBC dalam perjalanan hidupnya.

 

“Penyakit TBC kalau tidak diobati secara tepat akan menyebabkan kematian. Karena menyerang pernapasan dan penurunan berat badan dan lainnya,” sebutnya.

 

Di Kota Bontang untuk tahun 2021, ada 439 kasus TBC yang ditemukan dan diobati dari target 888 kasus. Artinya masih ada 50,6 persen kasus masih belum ditemukan dan diobati (un-reach) atau sudah ditemukan dan diobati tetapi belum tercatat oleh program (detected, un-notified).

 

Mereka yang belum ditemukan menjadi sumber penularan TBC di masyarakat. Keadaan ini merupakan tantangan besar bagi program penanggulangan TBC di Indonesia, dan di Bontang khususnya. Diperberat dengan tantangan lain dengan tingkat kompleksitas yang makin tinggi seperti ko-infeksi TBC-HIV, TBC resistan obat (TBC-RO), TBC kormobid, TBC pada anak serta tantangan lainnya.  

Salah satu upaya Dinkes Bontang yakni Investigasi Kontak (IK). Ini merupakan kegiatan pelacakan dan investigasi yang ditujukan pada orang-orang yang kontak dengan pasien TBC (indeks kasus) untuk menemukan terduga TBC. Investigasi kontak bertujuan untuk menemukan pasien TBC dan TBC laten.  

IK mempunyai 2 fungsi yaitu meningkatkan penemuan kasus dan mencegah penularan TBC dimasyarakat. IK di Indonesia dikembangkan dengan mencari kasus yang tertular maupun yang merupakan sumber penularan pada kasus TBC terkonfirmasi bakteriologis dan TBC pada anak. Sementara itu, pada hari ketiga 16 Juni 2022, Dinkes Bontang juga melakukan bimtek. Dimana materi yang diberikan seputar penyakit kusta. Toetoek mengatakan, penyakit tersebut merupakan salah satu penyakit menular yang menimbulkan masalah yang sangat kompleks.

 Masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis tetapi meluas sampai masalah sosial, ekonomi, budaya, keamanan dan ketahanan nasional. Penemuan dan pengobatan kasus secara dini merupakan strategi utama program kusta di Provinsi kalimantan Timur khususnya Kota Bontang. Namun mendeteksi dini kasus kusta melalui pelayanan pasif di puskesmas dan rumah sakit, sulit untuk berjalan secara maksimal karena stigma masih tinggi dan pengetahuan masyarakat tentang penemuan kasus baru kusta masih kurang.  

“Untuk penyakit kusta ini memang tidak menimbulkan kematian, tapi dampak psikologis sangat berat. Kemudian bukan cuma orang dewasa yang bisa tertular, tapi juga pada anak. Gejala yang paling menonjol yaitu bercak-bercak, mati rasa, serang kulit dan saraf,” jelasnya.  

Adapun kasus Kusta di Kota Bontang, lanjut dia, sejak tahun 2015-2021 adalah 79 kasus yang ditemukan dan diobati. Tahun 2019 Bontang pernah melaksanakan kegiatan RVS (Rapid village Survey )dengan penemuan 5 kasus baru dari hasil kegiatan tersebut sehingga diharapkan kegiatan ICF (Intensifed case finding ) dapat dilaksanakan setiap tahun.  

Dari seluruh rangkaian kegiatan tersebut, pesertanya diikuti oleh kelurahan, kecamatan, puskesmas serta kader kesehatan. “Semoga dengan bersatunya tenaga kesehatan, semua penyakit dapat diatasi,” tambah Toetoek. (Adv/Kominfo)