BONTANG - Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Bontang terus berupaya memaksimalkan penarikan pajak, untuk pendapatan asli daerah (PAD). Salah satunya pada sektor pajak sarang burung walet.

Sarang burung walet dinilai berpotensi besar untuk menyumbang PAD. Namun pada kenyataannya mendapat sorotan dari badan pemeriksa keuangan (BPK). Sebab, potensi tersebut tidak maksimal.

“Bangunan walet selalu disorot BPK. Padahal hasil walet di Bontang memang begitu lah kondisinya,” kata Kabid Pajak dan Retribusi Daerah Bapenda Bontang, Baslan.

Berdasarkan data Bapenda Bontang, tahun 2021 terdapat 246 bangunan sarang walet yang tersebar di tiga kecamatan. Sehingga potensi sarang burung walet digadang-gadang bisa menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Meski demikian, Baslan berharap potensi pajak khususnya pada sarang burung walet tetap ada yang bisa disumbangkan ke PAD. Walau tidak banyak, paling tidak mampu mendongkrak pendapatan asli daerah.

“Kami selalu berusaha, kita lihat bisa dibilang tidak ada. Walau kami target serendah-rendahnya tetap tidak tercapai,” imbuhnya kepada Prokal.co belum lama ini.

Jika diasumsikan, 246 sarang walet mampu memproduksi satu kilo sarang dengan harga Rp 10 juta perkilon, akumulasinya mencapai Rp 2,46 miliar. Kemudian besaran pajak yang diperoleh kurang lebih Rp 240 juta. (**)