Sungai mati di wilayah Kecamatan Sungai Pinang menjadi hilir dari sistem pengendalian banjir Sungai Talang Sari dari area tangkapan air, meliputi Perumahan Talang Sari, Terminal Lempake hingga Jalan Mugirejo, dan sekitarnya.

 

SAMARINDA–Kondisinya belum maksimal karena masalah sosial permukiman warga yang berdiri di atas drainase. Tahun ini pembongkaran rumah warga tepi sungai akan dilanjutkan dengan alokasi anggaran Rp 1 miliar.

Kabid Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Samarinda Rosyanadi Novida mengatakan, pihaknya telah membuat desain perencanaan penanganan sebagai bahan untuk pembebasan lahan. Kondisi eksisting lebar sungai hanya 1 meter. Rencana lebar sungai baru mencapai 4–5 meter, dengan kedalaman mengikuti kondisi eksisting sekitar 2 meter. "Sementara dari Gang Tridarma menuju ke belakang swalayan GBE. Di sana akan dibuat sodetan. Tidak mengikuti alur sungai terdahulu agar meminimalisir dampak sosial," ucapnya, Selasa (14/6).

Dia berharap, tim bidang pertanahan Dinas PUPR Samarinda segera menyelesaikan proses pembebasan lahan. Pasalnya, untuk pembuatan sodetan dan normalisasi alur sungai sesuai desain ideal, akan dibantu tim Dinas PUPR-Pera Kaltim tahun ini. Sehingga, pekerjaan penanganan fisik untuk pembangunan dinding penahanan tanah (DPT) atau turap sungai dapat diusulkan tahun depan. "Dalam desain juga telah mengakomodir lahan jalur jalan operasional untuk keperluan pemeliharaan," ujarnya. "Semoga normalisasi tahun ini bisa menunjukkan dampak pengurangan tinggi genangan tepatnya di Jalan DI Panjaitan dan sekitarnya," sambung dia.

Terkait rencana pembebasan lahan, tim bidang pertanahan telah melakukan sosialisasi kepada beberapa warga RT 30 Kelurahan Gunung Lingai, di kantor Kecamatan Sungai Pinang, Senin (13/6).

Pejabat Fungsional Penata Pertanahan Ahli Muda Bidang Pertanahan Dinas PUPR Samarinda Dicky Kurniawan mengatakan, estimasi jumlah warga terdampak masih akan dihitung kembali, menyesuaikan desain penanganan dengan kondisi lapangan. Anggaran Rp 1 miliar juga sudah disiapkan untuk diberikan kepada warga terdampak dengan mekanisme mengikuti aturan yang berlaku.

"Seperti pengukuran lahan, penertiban peta bidang oleh BPN (Badan Pertanahan Nasional), hingga penghitungan nilai ganti rugi oleh tim appraisal. Kami ikuti prosesnya dengan target rampung tahun ini," singkatnya.

Sebagai informasi, normalisasi sungai mati dimulai tahun lalu pada segmen Kelurahan Temindung Permai dengan jumlah bangunan terdampak 30 bangunan. Tahun ini pekerjaan dilanjutkan ke sisi hulu sungai, tepatnya di Kelurahan Gunung Lingai sebagai hilir dari Sungai Talang Sari. (dra/k8)

 

DENNY SAPUTRA

@dennysaputra46