Musibah kebakaran kembali melanda wilayah Samarinda. Kemarin (13/6), lima bangunan berubah jadi arang di Jalan Untung Suropati, Kecamatan Sungai Kunjang. Amukan api itu terjadi pukul 10.00 Wita. Dugaan sementara, salah satu rumah yang terbakar digunakan untuk menimbun bahan bakar minyak (BBM).

 

SAMARINDA–Tak butuh waktu lama bagi si jago merah yang mengamuk di kawasan tersebut membesar begitu cepat. Pasalnya, selain mayoritas bangunan di kawasan tersebut bermaterialkan kayu, ada dugaan salah satunya digunakan sebagai “gudang” tak berizin untuk menyimpan solar.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Samarinda Hendra AH menerangkan, sekitar 75 menit api mengamuk hebat hingga akhirnya petugas dan relawan gabungan bisa menaklukkan si jago merah. Lima bangunan dinyatakan rusak berat. "Yang terbakar itu satu warung dan empat rumah tunggal," jelasnya.

Dugaan api bermula dari warung yang menjual makanan. Kemudian si jago merah merambat ke bangunan lainnya. Akibat kejadian itu lima kepala keluarga dengan total 20 jiwa harus kehilangan tempat tinggal. "Kendala di lapangan karena warga panik, dan terjadi aksi saling tarik selang di lokasi kebakaran. Sehingga menyulitkan petugas melakukan pemadaman," sambungnya. Api bisa dikendalikan setelah mengerahkan 11 truk tangki milik Dinas Pemadam Kebakaran Samarinda dan relawan gabungan.

Satu bangunan rumah yang diketahui menjadi tempat penumpukan BBM cukup menyulitkan. “Temuan tim di lapangan diduga jadi penumpukan pertalite dan solar. Bahan bakar minyak intinya," imbuh dia. Ketika proses pendinginan, beberapa drum serta tempat penampungan kapasitas 200 liter ikut terbakar. Aroma menyengat solar begitu terasa di kawasan tersebut.

Ditemui terpisah, Area Manager Communication and CSR Regional Kalimantan Susanto Satria menyayangkan hasil temuan tim pemadam kebakaran tersebut. Penimbunan BBM subsidi oleh oknum-oknum tertentu diklaim memberikan berbagai dampak. "Selain kerugian materi (merugikan negara), adanya penumpukan membahayakan lingkungan, dan keselamatan," sesalnya.

Pertamina tentu mendukung Pemkot Samarinda dan aparat penegak hukum (APH) yang telah meluncurkan program Fuel Card 2.0. Tujuannya mengendalikan distribusi BBM solar subsidi agar tepat sasaran. "Fuel card tersebut telah didesain secara sistematis. Per kartu hanya untuk satu nomor polisi. Melakukan penimbunan dan meniagakan kembali BBM tanpa izin merupakan tindakan pidana," tegasnya.

Disinggung soal pengawasan terhadap BBM jenis pertalite yang belakangan sering kosong di beberapa SPBU, Satria menyatakan sepengetahuannya kuota untuk Kota Tepian tidak pernah ada pengurangan. Bila sempat kekosongan diduga karena proses pengiriman.

"Pengawasan (BBM) mungkin lebih selektif untuk pengisian. Tidak melayani pengisian jeriken," pungkasnya. Polisi dari Inafis Satreskrim Polresta Samarinda pun langsung memasang garis polisi agar tak ada aktivitas di sekitar tempat yang terbakar, termasuk titik temuan dugaan gudang solar ilegal. (dra/k8)

 

ASEP SAIFI ARIFIAN

@asepsaifi