Penyesuaian harga tidak hanya membelenggu kalangan penjaja kuliner, baik kafe ataupun restoran. Pengusaha, termasuk yang bergerak di bidang properti pun harus sedia memutar otak. Supaya harga produksi tidak semakin membengkak.

 

BALIKPAPAN - Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Balikpapan Iwan Wahyudi mengatakan, harga-harga material sudah melesat cukup lama. Isu global di Eropa, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) hingga perubahan pajak pertambahan nilai (PPN) menjadi 11 persen memberikan pengaruh terhadap harga produksi material yang kini mengalami pula kenaikan.

Dia pun yang baru pulang dari umrah mengungkapkan bahwa harga barang maupun kebutuhan pokok di luar negeri tengah bergejolak. Tanpa ada intervensi atau tindakan langsung dari pemerintah, hal ini dikhawatirkan akan berdampak panjang. Di tengah peningkatan harga, para pengusaha menginginkan kelonggaran. Baik dari sisi pajak atau memungkinkan harga BBM tidak lagi naik.

“Hal paling tidak diinginkan pengusaha ialah menyesuaikan harga produksi dengan kenaikan. Karena itu akan membebani konsumen dengan harga lebih mahal. Kita memang tidak tahu situasi nantinya bakal seperti apa, tetapi mau tidak mau bila memang tidak bisa dipertahankan maka exit plan bisa saja terjadi,” bebernya, Minggu (12/6).

Di saat pandemi, harga bahan bangunan memang mengalami kenaikan. Mulai semen, bata ringan, besi perubahan harganya sangat membebani. Dampaknya, dana membangun rumah pun membengkak. Sekarang, paling tidak membutuhkan dana ekstra hingga Rp 50 juta di luar dana perincian utama. Artinya, harus mempersiapkan dana tambahan sekitar 10 persen lebih dari rencana semula.

Tidak bisa terus-terusan ditahan, harga produksi yang terkena imbas melejitnya bahan material ini membuat pengusaha akhirnya mengambil siasat terakhir, yakni penyesuaian harga. “Material berupa semen, besi naik, untuk cat saat ini cenderung masih bisa terkendali. Kenaikannya, rata-rata sekitar 10 persen. Harga teman-teman developer di Balikpapan juga bervariatif,” ungkap Iwan.

Walau pengusaha di Tanah Air menghadapi situasi cukup berat, dia berharap ada kemudahan perizinan dan investasi. Agar keberadaan pemerintah bisa dirasakan pengusaha. Meski demikian, situasi kondisi ekonomi saat ini di Indonesia kata Iwan tetap positif. Pemerintah mampu menjaga sentimen pertumbuhan ekonomi. Dari itu, pengusaha masih optimistis bila ritme dan tempo tersebut masih terus dijaga maka akan mengalami pertumbuhan.

“Semoga saja ke depan masih bisa bertahan. Kami juga harap, kemudahan bagi perizinan dan investasi. Tidak hanya sekadar jargon, OSS (online single submission) yang dilakukan pemerintah harus bisa benar-benar dirasakan. Sebagai karpet merah kepada pengusaha. Harga-harga material pun diharapkan dapat stabil,” pungkasnya. (ndu/k15)

Ulil Muawanah

[email protected]