SAMARINDA–Jalan Stadion Utama Kaltim Palaran di wilayah Kelurahan Simpang Pasir, Kecamatan Palaran, menjadi salah satu akses menuju gerbang Tol Balsam segmen Palaran. Meski ada dua akses lainnya, yakni melalui Jembatan Achmad Amins dan Jalan Simpang Pasir. Namun, kondisinya mengkhawatirkan karena ada tiga titik longsor yang kerap membuat akses terganggu.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda Suwarso mengatakan, pihaknya bersama Tim Geologi BPBD mendatangi lokasi longsor yang jaraknya sekitar 50 meter dari SKOI Kaltim belum lama ini. Untuk diketahui, titik itu sempat mengalami longsor pada Minggu (22/5), dan lumpuh sekitar 10 jam karena tanah yang menutup satu ruas jalan. “Kami melihat jalur sudah normal setelah dibersihkan oleh UPTD Pemeliharaan Infrastruktur Wilayah II Dinas PUPR dan Pera Kaltim bersama relawan,” ucapnya, Minggu (29/5).

Hasil pantauan tersebut diketahui kemiringan tebing di bagian atas mencapai lebih 60 derajat, sedangkan strukturnya terdiri dari batuan serta tanah lempung berpasir, sehingga mudah terjadi jenuh air ketika hujan. Apalagi lokasi tersebut sudah dua kali mengalami longsor, sehingga untuk kejadian susulan bisa dipastikan berpotensi terjadi lagi. “Penanganan sementara telah dilakukan pembersihan. Namun, ada dua opsi untuk penanganan permanen, yakni cut and fill atau pembangunan dinding penahan tanah (DPT),” jelasnya.

Dia menerangkan, hasil pantauan tersebut akan dituangkan dalam advis teknis untuk di laporan ke Wali Kota Samarinda Andi Harun berserta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Samarinda. Tidak hanya itu, sepanjang jalur tersebut terdapat beberapa titik rawan longsor lainnya, sehingga penanganan perlu diperhatikan, memperhitungkan skala prioritas hingga kekuatan anggaran. “Bisa dikolaborasikan dengan Pemprov Kaltim karena akses itu juga masuk perawatan tim Dinas PUPR dan Pera Kaltim,” terangnya.

Terkait opsi penanganan dengan metode cut and fill, dimungkinkan pembuangan material ke bagian belakang gunung. Namun, hal itu perlu kajian mendalam karena wilayah tersebut berpotensi berdampak pada lahan perkebunan maupun persawahan warga Kelurahan Rawa Makmur dan Simpang Pasir. “Kami akan menghitung jarak antara lokasi gunung dengan lahan warga, agar tidak terjadi dampak lain dari aktivitas penanganan tersebut. Begitu juga untuk status aset lahan, akan dikoordinasikan dengan BPKAD (Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Samarinda,” tutupnya. (dra/k8)

 

DENNY SAPUTRA

@dennysaputra