Masalah persampahan menjadi momok bagi setiap kota untuk bisa diselesaikan. Seperti di Samarinda, sampah yang dihasilkan mencapai 800 ton per hari. Didistribusikan ke TPA Bukit Pinang dan TPA Sambutan. Perlunya teknologi tepat guna agar sampah bisa dikelola maksimal.

 

SAMARINDA–Kondisi itu tentu menjadi tawaran salah satu perusahaan dari Jawa Barat, yakni PT Cipta Serra Utama yang disampaikan kepada Wali Kota Samarinda Andi Harun bersama Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda Nurrahmani, Jumat (27/5) lalu.

Perusahaan tersebut mampu mengelola sampah menghasilkan pasir silica sebagai bahan baku pembuatan bata ringan serta pembangkit listrik.

Nurrahmani menjelaskan, perusahaan tersebut menawarkan kemampuan pengolahan sampah antara 40 ton per hari hingga 500 ton per hari. Dengan kebutuhan lahan masing-masing 4 ribu meter persegi hingga 10 hektare. “Tenaga kerja yang diserap antara 42–1.200 orang, tergantung kapasitas pabrik,” ucapnya, Minggu (29/5).

Dia menyebut, wali kota menyambut baik tawaran kerja sama tersebut karena teknologi yang digunakan cukup menarik, agar pihaknya segera menyiapkan rencana penandatanganan memorandum of understanding (MOU) atau surat perjanjian kerja sama (SPKS). Namun, satu catatan dari wali kota sebagaimana disampaikan, perusahaan diminta melakukan perhitungan detail terkait pola-pola kerja sama yang bisa ditempuh. “Agar pemkot dapat menghitung nilai ekuitas. Karena perusahaan sempat kukuh siap berinvestasi penuh. Tinggal kota menyiapkan lahan serta bahan baku meliputi lumpur dan biomassa (kayu),” sebutnya.

Terkait teknik pengolahan sampah yang ditawarkan, Yama, sapaan akrab Nurrahmani, menjelaskan sampah tanpa pemilahan (kecuali besi dan limbah B3) ditumpuk bersama lapisan lumpur, biomassa dan tanah atau pasir. Namun, kami meminta agar bahan bisa disesuaikan, yakni tanpa campuran tanah. “Takutnya banyak gunung dipotong untuk bahan. Kalau lumpur, lebih memungkinkan dari aktivitas pengerukan sungai,” jelasnya.

Dia menambahkan, selain perhitungan pola kerja sama, pihaknya juga akan menyiapkan opsi-opsi menempatkan lokasi, namun jika bahan baku yang diperlukan salah satunya lumpur maka area tepi sungai yang paling memungkinkan. Namun, opsi itu perlu kajian dari sisi lingkungan dan kesesuaian tata ruang.

“Jika skala besar seperti 500 ton, maka kami tawarkan di TPA Bukit Pinang untuk mengolah sampah lama. Semua kajian baik dari PT Serra dan DLH akan dipaparkan kembali ke wali kota sebulan mendatang,” ucapnya. “Itu juga untuk menguji keseriusan perusahaan terhadap kerja sama dengan Pemkot Samarinda. Meski di awal mereka mengaku siap berinvestasi dan berbagai keuntungan. Jangan sampai di kemudian hari pemerintah dirugikan,” tutupnya. (dra/k8)

 

DENNY SAPUTRA

@dennysaputra46