SAMARINDA–Niat pemerintah untuk menata kota tidak akan sukses bila tidak mendapat dukungan warga. Seperti yang terjadi di Jalan Jelawat, Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Samarinda Ilir.

Penertiban yang dilakukan terhadap pedagang yang menggelar lapak di atas drainase, ditentang bahkan dengan ancaman keras.
Aksi penertiban yang puluhan kali dilakukan itu berujung ricuh, Rabu (25/5). Warga yang merasa keberatan membawa senjata tajam (sajam) dan dengan bebas mengayunkan kepada aparat penegak peraturan daerah (perda). Meski tidak ada korban jiwa, kejadian itu berlanjut ke ranah hukum karena terdapat unsur ancaman kepada aparat pemerintah.

Kabid Ketenteraman Masyarakat dan Ketertiban Umum (Trantibum) Satpol PP Samarinda Ismail menerangkan, beberapa hari sebelum pembongkaran kemarin, pihaknya sudah mendatangi lokasi, meminta warga membongkar lapak yang berdiri di atas drainase. Namun, pedagang yang diduga sebagai pemilik lapak mengaku mau melanjutkan pembongkaran. “Nyatanya setelah dicek kembali tidak ada perubahan. Makanya kami datangi lagi untuk pembersihan,” terangnya. Dia tidak menduga “bersih-bersih” yang dilakukan jajarannya disambut perlawanan warga, bahkan ada yang sampai mengacungkan dan melayangkan parang ke anggota Satpol PP yang bertugas.

Meski tidak ada korban jiwa, pihaknya memilih mundur, melaporkan kejadian ke Polsek Samarinda Kota. Setelah Kapolsek Samarinda Kota AKP Jajat Sudrajat datang, Satpol PP juga merapat ke TKP untuk menerangkan kronologis. Bahwa apa yang dilakukan jajarannya mengacu perda yang berlaku. “Itu sudah sesuai aturan, tidak boleh ada bangunan di atas drainase,” ucapnya.

Atas kejadian itu, akan digulirkan ke ranah hukum. Pihaknya telah membuat laporan resmi ke Polsek Samarinda Kota berkaitan adanya pengancaman terhadap petugas yang bekerja, bahkan ada tiga sajam sempat diamankan dari lokasi kejadian. “Kami sudah koordinasi dengan Wali Kota Samarinda Andi Harun,” singkatnya.

Ditemui terpisah, Camat Samarinda Ilir Ramdani menerangkan, penertiban PKL di sekitar Pasar Sungai Dama meliputi Jalan Jelawat, Jalan Otto Iskandardinata, Jalan Pesut, dan Jalan Tongkol. Bahwa sudah banyak surat dilayangkan kepada pedagang. Bahkan, penertiban dilakukan bertahun-tahun. Sayang, tidak ada efek jera bagi mereka. "Setelah diterbitkan keesokan hari kembali ke lokasi yang sama. Padahal, mereka sudah disiapkan lapak di Pasar Sungai Dama baru. Lebih layak dan bersih," ucapnya.

Ditemui terpisah, Jajat Sudrajat menegaskan, kehadiran pihaknya merupakan dukungan kepada pemerintah kota untuk penegakan perda. Dalam hal ini ketika ada kericuhan pihaknya berperan untuk menenangkan masa, sehingga situasi kembali kondusif. "Kami mendukung penegakan perda agar warga tidak berjualan di atas drainase. Hal itu kan berdampak penyempitan jalan hingga menyebabkan kemacetan setiap hari," singkatnya.

Dari pantau media, setelah anggota Satpol PP membubarkan diri, Jajat didampingi Camat Ramdani menyisir tepi Jalan Otto Iskandardinata hingga ke Masjid Asyuhada. Pedagang yang berjualan di atas drainase diminta pindah ke bagian dalam setelah drainase. Begitu juga motor pegawai hingga pengunjung toko diminta untuk masuk ke area toko. (dra/k8)

DENNY SAPUTRA
@dennysaputra46