SRIMULAT: Hil yang Mustahal Babak Pertama berhasil memperkenalkan kembali grup lawak legendaris ke generasi muda. Film yang rilis mulai 19 Mei itu menuai respons positif dari penonton. Para pemain juga mendapat apresiasi dari sineas dan keluarga grup Srimulat.

Sutradara Fajar Nugros mengaku, proses mewujudkan film lucu yang tetap membumi dan penuh nostalgia itu butuh usaha ekstra. ’’Selama syuting, enggak ada yang ketawa. Termasuk krunya. Kami semua serius banget,’’ paparnya dalam kunjungan ke kantor redaksi Jawa Pos, Surabaya, kemarin (24/5).

Para cast juga merasakan ’’tensi tinggi’’ selama produksi berlangsung. Hal itu dibenarkan Bio One, pemeran Gepeng. Menurut dia, tahapan reading hingga syuting jauh dari meriah. Sebab, tiap karakter mendapat PR melakukan riset dan pendalaman karakter. ’’Waktu ditayangkan, nonton bareng, baru kerasa. Gila, gue syuting waktu itu ternyata lucu juga, ya,’’ kelakarnya.

Demi mewujudkan film pertama SRIMULAT, Fajar menilai ada tantangan khusus saat casting. Para cast perempuan dan laki-laki dipaksa tampil biasa. Dia memaklumi celetukan yang menyebut cast pilihannya terlalu tampan atau cantik untuk memerankan pelawak Srimulat.

’’Di awal langsung saya jelaskan, ’Kalian bakal biasa aja, bahkan dibikin jelek’. Untungnya mereka semua mau dan siap,’’ lanjut sutradara yang juga menangani Yowis Ben itu. Menurut dia, dari semua cast, hanya Erick Estrada yang tak perlu banyak bertransformasi. ’’Wis gawan bayi (sudah bawaan lahir, Red),’’ seloroh Fajar.

Morgan, pemeran Paul, memotong rambut depannya. Bio One menurunkan bobot dan ’’menggelandang’’ ke Surakarta. Para cast perempuan pun dapat tantangan serupa. Naimma Aljufri, yang biasa memerankan siswi SMA di film drama romansa, harus memerankan Rohana. Aktris Erika Carlina yang dikenal dengan citra seksi pun dipaksa menjadi Djudjuk yang karismatik. ’’Berdiri, duduk aja diatur,’’ katanya.

Di sisi lain, tim produksi dan para cast berusaha ekstra untuk menampilkan film yang ger, tapi tetap natural dan tidak dipaksakan. ’’Meski pelawak, bagaimanapun juga, Srimulat ini kan aktor panggung. Leluconnya adalah respons dan celetukan dari apa yang terjadi,’’ ungkap Fajar.

Di lokasi syuting, tektokan dialog mengalir lancar. Semua pemeran punya porsi sama dan setara, tidak ada yang lebih lucu dari lainnya. ’’Inilah, menurut gue, uniknya film ini. Semua tokohnya, tokoh utama. Tapi, ada yang jadi striker, ada yang jadi kiper,’’ ujar Ibnu Jamil.

Morgan menambahkan, komedi yang muncul di SRIMULAT dibangun ibarat fondasi. ’’Enggak ada yang lebih menonjol. Semuanya sama-sama mikirin, gimana cerita yang diinginkan bisa diterima penonton,’’ ucap aktor pemilik satu Piala Maya itu.

Fajar menuturkan, meski merupakan biopik tentang Srimulat, dia tetap berusaha menampilkan sisi segar. Salah satunya dengan tidak membebankan satu gimmick ke pemeran tertentu. Respons dan aksi kocak lahir dari improvisasi di depan kamera. ’’Enggak ketebak dan enggak ada yang tahu siapa yang bakal melorot di kursi, nyeletuk, atau apa pun. Kalau film horor punya jump scare, SRIMULAT punya jump ger,’’ celetuknya.

Sesuai judulnya, cerita SRIMULAT akan dilanjutkan di sekuelnya. Fajar menjelaskan, keputusan memecah cerita menjadi dua bagian mempertimbangkan sejarah grup asal Surakarta itu yang terlalu panjang untuk dituturkan di satu film. Belum lagi, banyak karakter yang belum dieksplorasi. ’’Apakah ada babak ketiga dan seterusnya, itu lihat respons penonton,’’ imbuhnya. (fam/c18/ayi)