Tiga tahun setelah film pertama rilis, kehangatan keluarga Emak dan Abah dan ketiga anak-anaknya dalam Keluarga Cemara akhirnya berlanjut ke part 2. Bakal tayang di bioskop bulan depan, film legendaris yang dibintangi Ringgo Agus Rahman (Abah) dan Nirina Zubir (Emak) itu telah merilis trailer-nya.

Berdurasi kurang dari tiga menit, film tersebut menampilkan kehidupan sebuah keluarga kecil dengan dinamika yang kompleks. Cerita serta karakter-karakter yang ada berkembang. Sebelumnya, permasalahan keluarga Abah di film Keluarga Cemara hanya perihal finansial. 

Namun, di sekuelnya itu, masalah yang dihadapi mereka jauh lebih rumit. Abah mulai fokus dengan pekerjaan barunya. Lalu, Emak sibuk merawat si bungsu, Agil. Namun, di satu sisi, mereka juga dipusingkan dengan bagaimana cara mendidik anak gadis. 

Si sulung Euis (Adhisty Zara) telah bertumbuh dan dalam fase transisi anak-anak menjadi remaja yang mulai mengenal lawan jenis. Serta, Ara (Widuri) merasa kurang diperhatikan lantaran orang-orang terdekatnya tersebut sibuk dengan urusannya masing-masing. Terutama sang kakak yang tak lagi ingin tidur bersamanya dan ingin dibuatkan kamar baru. Situasi itu membuat Ara merasa terasingkan sebagai anak tengah. 

Anggia Kharisma, produser Keluarga Cemara 2, menuturkan bahwa cerita keluarga selalu menarik untuk digali. Takkan pernah kehabisan bahan dan kisahnya abadi. Dalam sekuel tersebut, Anggia sengaja menyajikan permasalahan umum nan familier. 

Dengan demikian, filmnya itu relate dengan kehidupan masyarakat. Sebab, dia menyadari bahwa proses pertumbuhan yang dialami setiap anggota keluarga tidak selalu berjalan mulus. ’’Pasti akan ada dukanya. Nah, proses bertumbuh dan layer-layer-nya itu yang kami ambil,’’ kata Anggia saat konferensi pers di Plaza Senayan, Jakarta, kemarin (18/5).

Dia meyakini bahwa masalah yang menimpa Abah, Emak, Euis, dan Ara pasti dirasakan banyak keluarga. Dalam Keluarga Cemara 2 itu, tagline ’’Istana yang paling indah adalah keluarga’’ justru menjadi sebuah tanda tanya besar. 

’’Apa betul seperti itu? Tapi, ya itulah yang sebetulnya mendasari bahwa film ini penting dibuat. Dan juga jadi pertanyaan besar bagi kami saat melalui proses pembuatan film Keluarga Cemara 2,’’ tutur Anggia.

Sementara itu, Ringgo menyatakan bahwa perkembangan karakter Abah sama-sama berproses dengan dirinya di kehidupan nyata. Masalah yang menimpa Abah sedikit banyak dirasakannya.

’’Abah juga punya masalahnya sendiri. Memang masalah seseorang tuh nggak akan selesai. Tapi, di film kedua ini, Abah jadi lebih hati-hati dan masih naif,’’ tutur suami aktris Sabai Morscheck itu. Senada, Nirina menambahkan bahwa menjadi orang tua belajarnya itu seumur hidup. Dan tidak ada sekolahnya. Semakin bertambahnya usia, banyak pula tantangan dalam hidup yang harus siap dihadapi. Namun, kehadiran seorang ibu dalam sebuah keluarga diyakini mampu menetralisasi kehangatan rumah.

’’Emak hadir sebagai pemerhati yang menyerap semua kejadian dan memberikan solusi,’’ katanya. Menurut dia, seorang ibu harus mampu bersuara demi memperbaiki kondisi keluarga menjadi lebih baik lagi. Tidak malah memperkeruh keadaan. ’’Karena nambah anak, nambah masalah juga. Bersuara tidak berarti bertikai, ya,’’ terang Nirina. Film karya sutradara Ismail Basbeth itu rencananya tayang di bioskop tanah air pada 23 Juni mendatang. (shf/c12/ayi)