ADANYA dugaan satu kasus hepatitis akut misterius di Kaltim, membuat pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan. Walau akhirnya, masuk klasifikasi discarded atau disingkirkan dari diagnosis hepatitis akut, antisipasi masuknya wabah penyakit menular ini terus dilakukan. Terutama di Balikpapan yang menjadi pintu gerbang Kaltim.

 “Ketika (hepatitis akut) jadi KLB (kejadian luar biasa) di Indonesia, maka Balikpapan menjadi daerah berisiko paling utama. Terkait dengan demografi posisinya sebagai pintu gerbang Kaltim, bandara, pelabuhan terbesar semua ada di Balikpapan. Yang menyebabkan mobilitas orang sangat tinggi,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Balikpapan Andi Sri Juliarty. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Balikpapan yang berusia di bawah 15 tahun sebanyak 3.487 orang. Dengan tren penularan hepatitis akut misterius terjadi pada anak-anak, maka banyak anak di Balikpapan yang sangat berisiko terpapar.

Apalagi, saat ini Balikpapan telah memperbolehkan kegiatan pembelajaran tatap muka (PTM) dilakukan 100 persen. Sehingga menjadi catatan bagi Diskes Balikpapan bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Balikpapan untuk mengawal kegiatan PTM ini bisa berjalan dengan aman. “Kami telah bersurat agar seluruh kantin sekolah dan PKL jajanan anak sekolah benar-benar ditutup dulu. Jadi anak-anak mengikuti PTM di sekolah dengan membawa makanan dan minuman sendiri, tidak berganti-ganti, dan pengawasan harus ketat di sekolah,” ucap perempuan yang akrab disapa Dio ini.

Selain itu, besarnya potensi penularan hepatitis akut misterius di Balikpapan, juga dapat dipengaruhi karena menurunnya jumlah kasus terkonfirmasi Covid-19. Membuat kepatuhan masyarakat menerapkan protokol kesehatan juga menurun. “Ini yang harus kita edukasi terus kepada masyarakat. Mungkin ancamananya bukan Covid-19 lagi, tapi terhadap hepatitis akut. Terutama pada anak,” pesan dia. Sementara itu, fasilitas kesehatan yang mampu mendeteksi hepatitis, minimal hepatitis B juga sudah disiapkan sepenuhnya. Meliputi 27 puskesmas dan fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) berupa klinik. Kemudian 12 rumah sakit.

Berdasarkan data SDM Kesehatan, juga disiapkan untuk penanganan hepatitis. Meliputi 28 dokter spesialis anak, 546 dokter umum, 2.237 perawat, dan 546 bidan. Diskes Balikpapan juga mengaktifkan kembali Tim Gerak Cepat (TGC) KLB Kota Balikpapan. “Hepatitis akut untuk anak ini, jika hal terburuk terjadi dengan semangat juang ketika pandemi Covid-19 akan dilakukan peningkatan kapasitas. Berkoordinasi dengan bapak dan ibu direktur RS rujukan utama dan alternatif ini,” jelasnya. Dio mengungkapkan, mengenai kasus hepatitis akut pada anak, data yang dimiliki Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga masih minim sekali. Bahkan hampir tidak ada kasusnya di Balikpapan.

Sehingga Diskes Balikpapan masih mengacu pada kasus hepatitis di Balikpapan berdasarkan identifikasinya. Pada 2021, ada sebanyak 277 kasus hepatitis selama setahun. Didominasi oleh Hepatitis B sebanyak 136 kasus, Hepatitis C sebanyak 12, dan Hepatitis A ada dua. Sementara itu, Hepatitis D dan Hepatitis E tidak ditemukan kasusnya. Dan kasus lain-lain sebanyak 127 kasus.

Sementara itu, hingga triwulan I 2022, sudah ada 77 kasus, dengan kasus terbanyak adalah Hepatitis B sebanyak 40 kasus dan lain-lain sebanyak 37 kasus. “Jika ini tidak diturunkan, maka tahun 2022 akan sama bahkan melebihi dari tahun 2021,” terangnya.  

Jika dirinci berdasarkan usia kelompok umur, pada 2021, juga ditemukan kasus hepatitis pada anak pada usia 7–12 hingga lansia di atas 60 tahun. Walau begitu, masih didominasi usia 46–59 tahun. Adapun pada Triwulan I 2022, justru tidak ditemukan anak-anak usia 7–12 tahun. “Mungkin saja di tahun 2021, masih ada kasus yang belum terlaporkan. Karena saat itu, kita memang semua terguncang dengan pandemi Covid-19. Atau hepatitis ini menjadi komorbidnya Covid-19. Sehingga laporannya malah masuk ke data Covid-19,” ungkapnya. (riz/k8)

 

Rikip Agustani

[email protected]