Hidup penuh dinamika. Terkadang tak semua rencana bisa berjalan mulus. Syaiful Misdar mengalaminya.

 

MISDAR tak pernah membayangkan kariernya di perusahaan supermarket waralaba terhenti lantaran terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

Bertahun-tahun menggantungkan hidup dari orang yang menerima gaji tetap setiap bulannya, setelah di-PHK ia harus memutar otak demi melanjutkan hidup dan menafkahi keluarganya.

“Saya di-PHK empat tahun silam. Sebagai kepala keluarga, tidak boleh putus asa. Saya harus menyambung hidup dari yang mendapat penghasilan tetap, sekarang tidak ada,” katanya, Minggu (15/5).

Kala itu, ia terkena pengurangan karyawan. Lalu, sempat menganggur beberapa bulan.

Dia bercerita, awalnya ketika diberitahu bahwa dirinya salah satu karyawan yang ikut terkena PHK dari perusahaan, ia sempat goyah. Perasaan sedih, bingung, khawatir bercampur aduk. Apalagi selama 7 tahun bekerja, ia praktis “termanjakan” karena punya penghasilan tetap, dan selalu menerima gaji pada tanggal yang sama.

"Agak goyah ya. Apalagi masih ada tagihan kredit di bank. Cicilan ada sepeda motor, bayar kontrakan, dan anak yang masih kecil. Perasaan saya campur aduk. Pusing, kalau tidur itu gak bisa. Pikirannya bercabang-cabang,” terangnya.

Untuk memperpanjang napas, saat itu praktis ia hanya bisa mengandalkan uang tabungan yang jumlahnya tak seberapa.

Ia berupaya mencari cara untuk tetap mendapatkan penghasilan. Melamar kerja ke sana-sini. Namun, Dewi Fortuna belum berpihak padanya. Ia pun akhirnya memutuskan banting setir dari semula karyawan menjadi sopir ojek online (ojol).

“Yang penting halal, dan dapat duit. Saya punya satu anak dan istri yang harus dinafkahi,” katanya.

Atas ajakan tetangga rumahnya, ia mendaftarkan diri menjadi mitra pengemudi Gojek pada 2017. Tak disangka profesi yang digelutinya sejak 2017 itu malah menghasilkan pendapatan lebih dari pekerjaannya sebagai karyawan.

“Penghasilan yang saya dapatkan melebihi apa yang saya peroleh dari pekerjaan sebelumnya. Tapi ‘kan ini tidak menentu. Tidak setiap bulan lancar. Ya alhamdulillah sampai sekarang bisa membantu saya,” ujar warga Gunung Guntur ini.

Ia mengaku, untuk bisa mendapat pendapatan lebih, ia bekerja atau menarik ojol 10 jam kerja. “Satu bulan bisa sampai sekitar Rp 4 jutaan kotor,” bebernya.

Dirinya pun melihat peluang cuan dari aktivitas masyarakat yang sangat erat dengan digitalisasi itu. Akhirnya, sampai saat ini pendapatannya dari menarik ojol saja. “Kalau kerja ya masih cari-cari. Tapi, sementara saya fokus ojol dulu,” kata pria berusia 31 tahun ini. (ms/k15)

 

AJIE CHANDRA

[email protected]