Rakyat Kaltim sebagai penduduk yang menerima dampak langsung dari aktivitas pertambangan, memiliki hak mendapat perlakuan penanganan masalah sosial.

 

SAMARINDA-Bantuan dana pendidikan yang mengalir ke sejumlah perguruan tinggi di Pulau Jawa ditegaskan Bayan Group bukan dari kas perusahaan melalui program corporate social responsibility (CSR). Melainkan dari kantong pribadi bos Bayan Group Dato' Low Tuck Kwong. Meski begitu, perhatian juga tetap dituntut untuk ke Kaltim. Sebab, Kaltim juga lokasi di mana Dato' Low Tuck Kwong mencari nafkah.

"Membetulkan adanya bantuan tersebut. Tapi itu bantuan pribadi," kata General Affair Bayan Resources Syahbudin dalam konferensi pers di Samarinda, Jumat (13/5) siang. Dia menekankan bahwa Bayan tetap memberikan CSR. Berbagai program CSR juga sudah dilakukan. Beberapa waktu lalu, pihaknya juga sudah berkoordinasi ke Universitas Mulawarman (Unmul). Namun, ada sejumlah kendala, sehingga belum berjodoh waktunya untuk membicarakan lebih lanjut.

Beberapa jam sebelum konferensi pers, melalui akun Instagram @bayanresources, Bayan Resources menyampaikan jika dalam menjalankan usaha, perusahaan tetap tunduk kepada aturan yang berlaku. Bayan Resources juga selalu memerhatikan wilayah sekitar tempat berusaha melalui dana CSR perusahaan. Pelaksanaan CSR secara berkala di bidang pendidikan di Kaltim telah dilaksanakan selama ini dan selalu menjadi sasaran penting bagi perusahaan. Tidak hanya menyasar ke perguruan tinggi, bahkan dari tingkat sekolah dasar, menengah, dan atas.

Sementara itu, Wakil Rektor Unmul Bidang Perencanaan, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Bohari Yusuf yang juga hadir dalam konferensi pers mengatakan, hadirnya dia dalam kesempatan tersebut karena sebelumnya dia memberi sambutan pelatihan soft skill yang dilakukan Bara Tabang (perusahaan bagian dari Bayan Resources). Jadi dia sekalian hadir untuk berbincang lebih lanjut. Dia mengatakan, di Unmul sudah beberapa kali kerja sama di bidang lingkungan dengan Bayan yang berupa kontrak. Misal Bayan perlu kajian atau monitoring, ada sumber daya manusia di Unmul yang bisa melakukan hal itu.

Terkait bantuan Dato' Low Tuck Kwong ke Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Institut Teknologi Bandung (ITB), Bohari menyebut memang dipahami bantuan itu dana pribadi bos Bayan. "Tapi apakah pribadi tidak ada ke Unmul. Jadi kami harapkan bisa terwujud. Walaupun pribadi, kasihlah ke Kaltim. Semoga ke depan, syukur-syukur Unmul kalau dikasih dana abadi. Namun, lebih enak nanti kita ketemu buat berdiskusi," kata Bohari. Lanjut dia, upaya pengabdian dari CSR perusahaan di bawah naungan Bayan disebut sudah dilakukan. Misalnya Bara Tabang.

Department Head Community Development Bara Tabang Ricardo Simanjuntak yang hadir dalam konpers itu menuturkan, pihaknya memberikan CSR di beberapa sektor. Termasuk pendidikan. Sebanyak 74 pemuda di sekitar perusahaan tambang mendapat bantuan. Bara Tabang memberi bantuan beasiswa dari SD, SMP, SMK, hingga mahasiswa berprestasi dan tidak mampu. Untuk SMA, ada Rp 1,5 juta, kemudian SMP Rp 1 juta, dan SD Rp 500 ribu. Pihaknya juga memberi bantuan bagi tenaga pendidik. "Ada bantuan, satu mahasiswa Rp 10 juta per tahun," jelas Ricardo. Selain itu, ada dua mahasiswa yang mendapat beasiswa full boarding sebanyak Rp 105 juta. Bantuan pendidikan juga diberikan kepada 26 desa.

Untuk mendapat beasiswa ini, ucap Ricardo, kriterianya adalah keluarga tidak mampu. Pihaknya bersurat ke pemerintah desa untuk merekomendasikan siapa yang berhak menerima beasiswa di desanya. Totalnya, dari beragam sektor, untuk CSR, perusahaan-perusahaan di bawah naungan Bayan yang masuk di Tabang Project, tercatat sekitar Rp 32 miliar. Untuk menentukan CSR ini, pihaknya harus menyusun rencana dan melakukan mapping dari berbagai musyawarah dari desa hingga kecamatan. Lalu, disusun dan dipresentasikan ke pemerintah.

 

Akademisi Kecewa

Meski begitu, kekecewaan sudah diutarakan berbagai pihak. Akademisi Unmul Hairul Anwar mengatakan memang wajar adanya kekecewaan. Apalagi Kaltim masih perlu stimulan pemberdayaan masyarakat dari perusahaan yang beroperasi di Kaltim. "Sebagai tempat di mana salah satu sumber uang tersebut dikeruk, kita jadi menyayangkan dan ada perasaan tersakiti. Kembali kita hanya dipandang sebagai tempat menghasilkan kekayaan," sesalnya. Alih-alih mendapat bantuan Rp 50 miliar, seperseratusnya saja belum tentu dirasakan.

Direktur Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Hamka mengatakan, pihaknya belum pernah mendapat bantuan dari perusahaan tambang. Termasuk Bayan.

"Harapannya bahwa perusahaan tambang bisa turut andil membantu dalam pengembangan SDM dalam bentuk beasiswa, pelatihan/pemagangan dan PKL ataupun bantuan dana untuk usaha mandiri," kata dia. Hamka menambahkan, pernyataan kecewa Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi tak boleh dibiarkan. Karena jika tidak ditindaklanjuti, Hamka khawatir masalah ini memiliki kemungkinan akan meledak suatu saat nanti.

Hamka menyarankan agar para pihak terkait mengambil kebijaksanaan untuk mencarikan solusi untuk kemaslahatan umum. "Rakyat Kaltim sebagai penduduk yang menerima dampak langsung dari aktivitas pertambangan, memiliki hak mendapat perlakuan penanganan masalah sosial," jelasnya. Diwartakan sebelumnya, Wakil Gubernur Hadi Mulyadi membeber jika terdapat beasiswa ratusan miliar yang diberikan pengusaha pemegang PKP2B Kaltim, ke kampus luar Kaltim Potret itu menjadi salah satu contoh, apa yang telah dikeruk dari bumi Kaltim, tak sepadan dengan yang didapat provinsi ini. Baik dari pengusaha, maupun pemerintah pusat. Wagub menyesalkan adanya hal itu.  Dalam keterangannya di Kantor DPRD Kaltim, Rabu (11/5), Hadi mengatakan, idealnya bantuan itu diberikan ke kampus-kampus dan anak-anak di Kaltim yang masih perlu bantuan. "Sebenarnya ini hanya satu kasus, kecewa ya pada semuanya. Karena saya sudah pelajari semua, hampir semua perusahaan PKP2B tidak serius memberikan CSR (corporate social responsibility)-nya ke Kaltim. Tetapi ini yang nyata di depan mata. Mudah-mudahan jadi titik temu buat kita, untuk mengoreksi semuanya," katanya.

Politikus Partai Gelora ini melanjutkan, selain soal keseriusan, ada juga yang sering dikritik Gubernur Isran Noor. Yaitu perusahaan yang produksinya meningkat, dan labanya naik, tetapi nominal CSR-nya tidak pernah naik. "Memang kita enggak ngerti matematik?" kritiknya. Hadi lalu membuka pengusaha batu bara di Kaltim yang memberi bantuan kepada perguruan tinggi di Pulau Jawa. Yakni dana Rp 100 miliar untuk Institut Teknologi Bandung (ITB), Rp 50 miliar untuk Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Rp 50 miliar untuk Universitas Indonesia (UI). Dari total ratusan miliar, dia menyayangkan tak ada bantuan sebesar itu untuk universitas negeri di Kaltim dari pengusaha batu bara

"Unmul (Universitas Mulawarman) mana, kok tidak ada? Wajar saya sebagai masyarakat Kaltim menyuarakan itu, wajar saya mempertanyakan itu," keluhnya. Dikutip dari laman resminya, Bayan Group dimiliki Dato’ Dr Low Tuck Kwon. Pertambangan batu bara milik Bayan Group di Kaltim berlokasi di Kabupaten Kutai Timur, Kabupaten Kutai Barat, dan Kabupaten Kutai Kartanegara. Konsesi Tabang di Kabupaten Kutai Kartanegara, merupakan aset produksi utama Bayan Group yang saat ini memproduksi sekitar 80 persen dari total produksi batu bara Bayan. Hasil batu bara Bayan Group di ekspor ke Malaysia, India, Cina, Vietnam, Filipina, Jepang, Korea, Spanyol, dan Taiwan. (riz/k16)

 

NOFFIYATUL CHALIMAH

[email protected]