Saat ini Kaltim tengah berjuang meningkatkan kemampuan SDM-nya untuk menyongsong IKN. Dengan anggaran Rp 10 miliar saja, diperkirakan 4 ribu masyarakat merasakan dampaknya.

 

 

SAMARINDA-Bantuan pendidikan ratusan miliar dari majikan Bayan Group, pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B) di Kaltim, ke perguruan tinggi mentereng di Pulau Jawa, membuat beberapa pihak kecewa. Walaupun dana itu merupakan donasi pribadi, bukan merupakan program CSR perusahaan, hal itu dianggap menyinggung upaya Kaltim yang berupaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.

Akademisi Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda Hairul Anwar mengatakan, jika bantuan pendidikan ratusan miliar itu merupakan uang pribadi, bisa dimaklumi karena hak yang bersangkutan. Namun, perlu diingat, jika perusahaan-perusahaan yang dimiliki bos Bayan Group telah mengeruk kekayaan dari bumi Kaltim dengan segala dampak yang ditimbulkan. Jadi wajar jika kemudian publik Kaltim kecewa mengetahui ada ratusan miliar bantuan pendidikan mengalir ke kampus di luar Kaltim.

"Sebagai tempat di mana salah satu sumber uang tersebut dikeruk, kita jadi menyayangkan dan ada perasaan tersakiti. Kembali kita hanya dipandang sebagai tempat menghasilkan kekayaan," sesalnya. Menurutnya, Kaltim masih perlu stimulan pemberdayaan masyarakat dari perusahaan yang beroperasi di Kaltim. Rektor Unmul Prof Masjaya juga tak bisa menyembunyikan kekecewaannya terhadap perusahaan yang mengeruk sumber daya alam Kaltim, tapi tak memerhatikan pengembangan pendidikan di lingkungan sekitarnya.

"Pernah saya protes. Kami kecewa kenapa gedung besar di beberapa perguruan tinggi lain dibangun Pertamina. Tapi di Unmul tidak ada. Ya mungkin itu kebijakan manajemen, tapi kita berjuanglah. Misalnya Unmul, kan dapat juga dari ISDB (Islamic Development Bank) bantuan luar negeri," ungkapnya. Menurut Masjaya, semestinya perusahaan besar membangun dan memberi perhatian ke Kaltim. Yang jadi prioritas anak didik di Kaltim. Misal membiayai beasiswa sampai selesai. Jadi, anak di Kaltim bisa mengakses pendidikan dengan baik. Termasuk membantu membangun infrastruktur pendidikan.

"Nanti sekolahnya di mana, sembarang. Itu untuk pembangunan SDM (sumber daya manusia)," katanya. Lanjut dia, esensi pembangunan itu memberi manfaat masyarakat sekitar. Jadi kalau eksploitasi di Kaltim artinya ambil keuntungan dan beri dampak di Kaltim, maka keuntungan itu harusnya juga berdampak di masyarakat sekitar. Sementara itu, Penjabat Sementara Forum Corporate Social Responsibility (CSR) Wahyudin menuturkan, Kaltim membutuhkan banyak kepedulian dari pengusaha. Alih-alih membantu masyarakat sekitar, donasi justru diberikan ke pihak luar saat Kaltim tengah berjuang meningkatkan kemampuan SDM-nya untuk menyongsong IKN.

"SDM itu memiliki sertifikasi kompetensi. Makanya program Forum CSR mengajukan ke perusahaan di Kaltim untuk menyertifikasi tenaga kerja. Sebab, sertifikasi jadi barang penting. Walaupun seseorang punya keahlian listrik. Tetapi, karena enggak punya sertifikasi, susah mencari kerja," kata Wahyudin. Dia melanjutkan, saat ini Kaltim harus kejar bola. Mereka yang lulus SMA, kalau belum kerja, maka perlu dididik lagi agar mendapat sertifikat keahlian. Adapun anggarannya, tidak sampai Rp 200 miliar. Menurut Wahyudin, dari perkiraan Rp 10 miliar saja, bisa membantu 4 ribu masyarakat Kaltim.

"Anggap, satu ujian sertifikasi perlu Rp 2,5 juta. Kalau Rp 10 miliar, artinya sudah ada 4 ribu orang. Sekarang tukang cukur sama pijat aja ada sertifikasi. Kalau mau buka izin usaha kan perlu sertifikasi. Kami sudah ajukan masalah ini. Pemda kan berteriak terus ini agar dilibatkan pembangunan IKN. Makanya harus disertifikasi," ungkapnya. Sementara itu, General Affairs PT Bayan Resources Syahbudin Noor yang dikonfirmasi Kaltim Post hingga tadi malam belum memberikan keterangan. Pesan melalui WhatsApp (WA) juga belum dibaca hingga pukul 23.30 Wita.

Diwartakan sebelumnya, Wakil Gubernur Hadi Mulyadi membeber jika terdapat beasiswa ratusan miliar yang diberikan pengusaha pemegang PKP2B Kaltim, ke kampus luar Kaltim Potret itu menjadi salah satu contoh, apa yang telah dikeruk dari bumi Kaltim, tak sepadan dengan yang didapat provinsi ini. Baik dari pengusaha, maupun pemerintah pusat. Wagub menyesalkan adanya hal itu. Dalam keterangannya di Kantor DPRD Kaltim Rabu (11/5), Hadi mengatakan, idealnya bantuan itu diberikan ke kampus-kampus dan anak-anak di Kaltim yang masih perlu bantuan. "Sebenarnya ini hanya satu kasus, kecewa ya pada semuanya. Karena saya sudah pelajari semua, hampir semua perusahaan PKP2B tidak serius memberikan CSR (corporate social responsibility)-nya ke Kaltim. Tetapi ini yang nyata di depan mata. Mudah-mudahan jadi titik temu buat kita, untuk mengoreksi semuanya," katanya.

Politikus Partai Gelora ini melanjutkan, selain soal keseriusan, ada juga yang sering dikritik Gubernur Isran Noor. Yaitu perusahaan yang produksinya meningkat, dan labanya naik, tetapi nominal CSR-nya tidak pernah naik. "Memang kita enggak ngerti matematik?" kritiknya. Hadi lalu membuka pengusaha batu bara di Kaltim yang memberi bantuan kepada perguruan tinggi di Pulau Jawa. Yakni dana Rp 100 miliar untuk Institut Teknologi Bandung (ITB), Rp 50 miliar untuk Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Rp 50 miliar untuk Universitas Indonesia (UI). Dari total ratusan miliar, dia menyayangkan tak ada bantuan sebesar itu untuk universitas negeri di Kaltim dari pengusaha batu bara

"Unmul (Universitas Mulawarman) mana, kok tidak ada? Wajar saya sebagai masyarakat Kaltim menyuarakan itu, wajar saya mempertanyakan itu," keluhnya. Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bagian Humas dan Protokol UGM Dina W Kariodimedjo memaparkan, bantuan itu merupakan dana untuk beasiswa. "Ini dana program Sahabat UGM. Pengelola dana abadi UGM. Ditkeu (Direktorat Keuangan) bekerja sama dengan mitra manajer investasi. Pengelola dana investasinya adalah Ditmawa (Direktorat Kemahasiswaan). Skemanya dibuat oleh Ditmawa untuk penerima manfaatnya. UGM memberi laporan per tahun ke PYC. Hasil investasinya saja yang dimanfaatkan untuk beasiswa," kata dia, Rabu (11/5).

Dikutip dari laman resminya, Bayan Group dimiliki Dato’ Dr Low Tuck Kwon. Pertambangan batu bara milik Bayan Group di Kaltim berlokasi di Kabupaten Kutai Timur, Kabupaten Kutai Barat, dan Kabupaten Kutai Kartanegara. Konsesi Tabang di Kabupaten Kutai Kartanegara, merupakan aset produksi utama Bayan Group yang saat ini memproduksi sekitar 80 persen dari total produksi batu bara Bayan. Hasil batu bara Bayan Group di ekspor ke Malaysia, India, China, Vietnam, Filipina, Jepang, Korea, Spanyol dan Taiwan. (riz/k16)

NOFFIYATUL CHALIMAH

[email protected]