MANILA – Komisi Pemilu (Comelec) Filipina belum mengumumkan hasil resmi pemilu. Meski begitu, ucapan selamat mengalir berdatangan untuk Ferdinand Marcos Jr alias Bongbong. Tiongkok dan Amerika Serikat menjadi deretan pertama yang memberikan selamat.

’’Presiden Biden menegaskan bahwa dia berharap dapat bekerja dengan Presiden terpilih (Bongbong, Red) untuk terus memperkuat aliansi AS-Filipina,’’ bunyi pernyataan Gedung Putih kemarin (12/5), terkait isi dari pembicaraan Presiden AS Joe Biden dan Bongbong. Mereka berbicara via telepon pada Rabu malam (11/5) waktu AS.

Gedung Putih menambahkan bahwa AS ingin memperluas kerjasama bilateral dalam berbagai masalah. Di antaranya pandemi, perubahan iklim, pertumbuhan ekonomi serta menghormati HAM.

Masalah HAM memang menjadi sorotan di pemerintahan Bongbong nanti. Itu karena sang ayah, mendiang Ferdinand Marcos, merupakan seorang diktator, koruptor dan pelanggar HAM berat. Para aktivis dan korban di era kepemimpinannya khawatir bahwa Bongbong akan berlaku serupa. Selain itu, Bongbong juga sempat menyatakan akan meneruskan kampanye anti narkoba Presiden Petahana Rodrigo Duterte. Kebijakan itu telah merenggut ribuan nyawa.

Sebelum Biden, Presiden Tiongkok Xi Jinping sudah lebih dulu menyampaikan selamat. Xi menegaskan bahwa dua negara sudah bekerjasama dalam suka maupun duka. ’’Saya sangat mementingkan pengembangan hubungan Tiongkok-Filipina dan bersedia membangun hubungan kerja yang baik dengan Presiden terpilih Marcos Jr,’’ ujar Xi.

Baik Tiongkok maupun AS nampaknya ingin berebut pengaruh di Filipina. Negara yang memiliki lebih dari 7.600 pulau tersebut terletak di garis depan ketegangan AS-Tiongkok terkait Laut China Selatan dan masalah geopolitik lainnya.

Bongbong berbeda dengan sang ayah. Dulu mendiang Marcos sangat dekat dengan AS. Saat melarikan diri ketika pemerintahannya digulingkan rakyat, dia dan keluarganya ditolong oleh pemerintah AS untuk keluar dari Filipina. Marcos dan keluarga mendapat suaka di Hawaii. Sementara Bongbong lebih dekat dengan Tiongkok.

Washington harus memberikan penawaran yang menarik agar bisa menggeser posisi Tiongkok. Situasinya cukup rumit. Pada 1995, Pengadilan Distrik Hawaii memerintahkan keluarga Marcos membayar USD 2 miliar (Rp 29,2 triliun). Itu adalah nilai uang yang dicuri dari rakyat Filipina yang menjadi korban kepemimpinan Marcos. Bongbong menolak dan pengadilan mengeluarkan surat pernyataan pelanggaran perintah pengadilan. Selama 15 tahun terakhir, Bongbong tak pernah menginjakkan kaki di AS karena disinyalir takut dengan konsekuensi putusan pengadilan tersebut.

 

Ukraina Gelar Sidang Kejahatan Perang Perdana

Dari Ukraina, pemerintah negara itu akan menggelar sidang kejahatan perang pertama yang dilakukan oleh tentara Rusia selama invasi. Jadwal pasti sidang belum ditentukan. Namun tersangka yang akan disidangkan sudah diungkap. Yaitu Vadim Shyshimarin.

Tentara Rusia yang berusia 21 tahun tersebut dituduh telah membunuh warga sipil tak bersenjata yang berusia 62 tahun. Peristiwanya terjadi pada 28 Februari lalu di Chupakhivka. Kantor Jaksa Agung Iryna Venediktova mengungkapkan bahwa pada saat kejadian, pasukan Ukraina memukul mundur konvoi pasukan Shyshimarin. Dia dan empat tentara yang selamat akhirnya mencuri mobil.

Nahas, muncul seorang pria yang merupakan penduduk sekitar. Dia tengah bersepeda. Shyshimarin diminta menembak pria tersebut dari dalam mobil. Tujuannya agar tak melapor ke pasukan Ukraina. ’’Pria itu meninggal di tempat hanya beberapa puluh meter dari rumahnya,’’ bunyi laporan Venediktova.

Tidak diketahui bagaimana Shyshimarin bisa ditangkap. Namun yang pasti, jika terbukti bersalah, dia bisa dijatuhi hukuman seumur hidup. (sha/bay)