Stunting masih menjadi persoalan serius dunia kesehatan di Tanah Air termasuk Balikpapan. Pemenuhan gizi jadi pekerjaan rumah.

 

Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) menggandeng Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK), Ikatan Bidan Indonesia, dan Tim Pendamping Keluarga untuk menekan angka stunting di Kota Minyak.

Kepala DP3AKB Alwiati mengatakan, pihaknya tengah membuat tim percepatan penanganan stunting yang ada di Kota Minyak.

“Tugas Tim Pendamping Keluarga ini, diharapkan kegiatannya bukan hanya dalam bentuk sosialisasi di satu tempat, tapi lebih banyak turun ke keluarga melakukan pendampingan dan melakukan intervensi secara terus-menerus,” katanya.

Ia menyampaikan, anak yang mendapat bantuan stunting, kemudian, dilakukan pendampingan serta pencegahan stunting-nya bisa betul terpantau dan kembali sehat serta menjadi generasi berkualitas ke depannya.

Menurutnya, DP3AKB bekerja sama dengan KUA yang ada di setiap kecamatan yang juga berperan serta dalam memberikan nasihat perkawinan, yang dilakukan tidak hanya dalam berumah tangga, tapi bagaimana mempersiapkan calon pasangan yang akan menikah menjadi lebih baik setelah punya anak, dan lebih sehat.

“Selama ini, tim pendamping keluarga sudah ada. Hanya saja selama pandemi Covid-19 aktivitasnya kurang, karena kita tidak bisa bertatap muka langsung, di mana Tim Pendamping Keluarga setiap kelurahan merekalah yang selalu hadir di setiap kegiatan pranikah yang dilaksanakan di KUA,” kata Alwi.

Pada 2018 jumlah balita di Balikpapan ada 18.824, dan yang terkena stunting mencapai 948 anak, dengan persentase 5 persen. Pada 2020 jumlah balita mencapai 18.248, yang terkena stunting capai 2.412 atau naik jadi 13 persen. Namun, pada 2021 jumlah balita 18.517 yang terkena stunting 1.892 atau 10 persen.

 

Data dari DKK Balikpapan, ada penurunan kasus stunting di 2021, dan ini terus upayakan semakin turun pada 2022. Targetnya di angka 9 persen.

Ketua TP PKK Balikpapan, Nurlena mengatakan, permasalahan stunting saat ini masih terjadi tidak terkecuali di Kota Balikpapan. Hanya saja indeksnya lebih rendah dibandingkan kabupaten dan kota yang ada di Provinsi Kalimantan Timur.

“Tapi, tetap pencapaian kita dalam penanganan stunting belum tercapai secara nasional untuk persentasenya yang merupakan patokan dari pemerintah pusat,” katanya.

Meski demikian, dengan adanya inovasi-inovasi baru diharapkan dapat menurunkan angka stunting di Kota Balikpapan. Banyak cara bisa dilakukan seperti pendampingan, memantau keluarga secara intens, apalagi dengan pandemi Covid-19 yang melandai sehingga tim bisa ke lapangan.

“Selama dua tahun ini kita akui tidak ada aktivitas. Sehingga, pendataan akan diulang. Dengan adanya kegiatan ini, dapat menciptakan hal baru sehingga kasus stunting diharapkan bisa ikut menurun,” pungkasnya. (ms/k15)

 

AJIE CHANDRA

[email protected]