Bambang Iswanto

Ramadan tinggal beberapa hari lagi berlalu. Suasana akhir Ramadan mulai dirasakan. Tanda-tandanya gampang dikenali. Mulai jalan-jalan raya menuju pusat perbelanjaan yang padat merayap, banyaknya jasa penukaran uang baru di kiri-kanan jalan, sampai dengan banyaknya jamaah salat Tarawih yang hilang dari masjid. Masyarakat disibukkan dengan penyambutan Idulfitri.

Gejala rutin yang menjadi penanda semakin dekatnya Lebaran ini berbanding terbalik 180 derajat dengan apa yang terjadi pada zaman Rasulullah. Dari riwayat-riwayat yang menyebutkan apa yang dilakukan Rasul dan para sahabat di akhir Ramadan, bisa dibayangkan bukannya hiruk-pikuk orang berbelanja dan sibuk mempersiapkan “pesta” Lebaran, namun keheninganlah yang ada saat itu.

Rasulullah dan sahabat fokus beriktikaf di masjid dan sementara waktu menceraikan urusan duniawi. Mereka menyengaja melepaskan kegiatan duniawi dalam rangka memaksimalkan waktu yang tersisa dengan segenap daya beribadah. Sampai urusan yang terkait dengan urusan hubungan suami-istri sementara ditiadakan, yang diistilahkan dalam teks hadis dengan mengencangkan ikat pinggang.

Mereka semua sedih karena tahu bahwa Ramadan akan berakhir tidak lama lagi. Bulan yang mereka rindukan sejak beberapa bulan sebelumnya akan pergi dan tidak ada jaminan akan bisa ditemui lagi. Seiring kepergian Ramadan, berlalu pula keistimewaan dan berbagai macam keutamaan di dalamnya.

Tidak ada bulan lain yang Allah bukakan pintu-pintu surga selebar-lebarnya dan ditutupnya pintu neraka serapat-rapatnya. Orang beriman digampangkan mendulang pahala berlipat ganda, mendapatkan hadiah ampunan yang gampang, dan dihadiahi Lailatulqadar malam penuh keberkahan yang lebih baik dari seribu bulan, serta keutamaan-keutamaan lain.

Rasul dan para sahabat merupakan perindu dan pemulia Ramadan yang paling baik. Berbeda dengan kebanyakan umat muslim yang hidup sekarang. Diberi kesempatan besar namun tidak bisa memanfaatkan dengan baik kehadiran Ramadan. Tidak jarang bahkan menyia-nyiakan, tidak senang dengan bulan Ramadan karena dianggap sebagai beban.

HARI RAYANYA ORANG BERUNTUNG

Ketika Idulfitri dan pasca-Ramadan, umat muslim terbagi ke dalam dua kelompok. Yaitu, kelompok yang beruntung dan kelompok yang rugi. Bukan saja rugi namun juga sampai pada celaka. Dalam sebuah hadis disebutkan ada orang yang celaka karena tiga hal, satu di antaranya adalah orang yang ketika diberikan kesempatan hidup di bulan Ramadan namun ketika lewat Ramadan ia tidak mendapatkan pengampunan dosa yang pernah dibuatnya.

Hadis tersebut sebenarnya menegaskan, orang yang bisa hidup di bulan Ramadan, tidak semuanya beruntung. Namun sebagian di antaranya menjadi buntung atau merugi bahkan celaka. Hina dan rendah derajatnya di hadapan Allah.

Orang-orang yang beruntung adalah orang yang memahami makna Ramadan. Dia tahu bagaimana memanfaatkan momentum Ramadan, menata niat untuk mengisinya dengan kegiatan-kegiatan ibadah yang berdimensi vertikal maupun ibadah horizontal. Giat mendekatkan diri kepada Allah dengan ritual ibadah seperti salat, puasa, zikir, dan sebagainya. Rajin pula berbagi dan membantu kepada sesama manusia, berlaku adil kepada alam.

Orang-orang ini sadar dengan misi terpenting dalam ibadah Ramadan yaitu menjadi insan yang mutaqin, manusia yang bertakwa kepada Allah. Salah satu ciri dicapainya derajat tersebut adalah konsistensi pasca-Ramadan berlalu.

Sedangkan kelompok yang kedua adalah kelompok khasirin, orang-orang yang merugi. Mereka memaknai Ramadan tidak lebih dari rutinitas dan siklus waktu yang berjalan seperti biasanya, sama dengan bulan-bulan lainnya. Yang mereka ketahui, setelah Ramadan ada Lebaran atau Idulfitri. Idulfitri harus dipersiapkan kedatangannya dengan pakaian baru, makanan dan minuman, dan luapan kegembiraan. Semua lepas dari substansi Idulfitri (kembali kepada kesucian).

Bagi mereka, ampunan Allah dan janji pahala yang tidak berbatas kalah pamor dengan potongan harga barang-barang belanjaan di mal yang belum tentu kebenaran potongannya. Kebaikan Lailatulqadar yang melebihi seribu bulan sirna cahayanya terhalang kesibukan mempersiapkan makanan.

Golongan yang rugi bukan saja mereka yang menyia-nyiakan Ramadan, namun juga berlaku kepada orang yang menjadi “hamba” Ramadan. Mereka disebut dengan ramadhaniyyun, beribadah hanya di bulan Ramadan. Setelah Idulfitri mereka kembali seperti semula. Semua ibadah seperti tidak membekas.

Ketika Ramadan mereka mengenakan jilbab. Selesai Ramadan jilbab ditanggalkan kembali. Saat Ramadan rajin membaca Al-Qur’an, Ramadan lewat Al-Qur’an kembali ke lemari penyimpanan dibiarkan bersampul debu. Ketika Ramadan salat wajib bahkan sunah didirikan, pasca-Ramadan sudah enggan melaksanakan salat sunah. Jangankan yang sunah, yang wajibnya pun mulai bolong-bolong.

Kata mutiara Arab menyebut, “Kun Rabbaniyyun, wa la takun ramadlaniyyun” (jadilah hamba Allah, jangan menjadi hamba bulan Ramadan). Maksudnya, jadilah orang yang menghamba kepada Allah secara istikamah tanpa harus bergantung dengan waktu tertentu, seperti bulan Ramadan saja.

Sejatinya orang yang merayakan Idulfitri adalah orang-orang yang beruntung dan bertakwa, bukan orang yang buntung. Merayakan telah berhasil menahan hawa nafsu dan menjalankan apa-apa yang diperintahkan dan memaksimalkan apa yang dianugerahkan di bulan Ramadan dan melanjutkannya di bulan-bulan selanjutnya. Untuk kemudian menjadi perindu-perindu Ramadan berikutnya.

Selamat Idulfitri 1443 H, semoga Allah memasukkan kita ke dalam kelompok orang-orang yang beruntung. Ja’alanallahu minal a’idin wal faizin. Amin. (dwi/k8)