Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sebagian besar wilayah di Indonesia berpotensi mengalami hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang. Termasuk sebagian besar Sumatera, Jawa, dan Kalimantan.

Dalam peringatan dini cuaca yang dikutip di situs BMKG seperti dilansir dari Antara di Jakarta, Senin (4/4), diprakirakan hujan lebat dapat terjadi di wilayah Aceh, Riau. Kepulauan Riau, Jambi, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jogjakarta, Jawa Timur, dan Bali.

Terdapat pula potensi hujan lebat di daerah Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat, dan Papua. Hujan dengan intensitas lebih ringan diprakirakan BMKG dapat terjadi di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Sulawesi Selatan, dan Maluku Utara. 

Khusus wilayah Jakarta, hujan ringan diprakirakan terjadi pada siang hari di Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan Jakarta Utara.

BMKG juga memperingatkan beberapa wilayah masuk dalam kategori siaga dampak hujan lebat seperti banjir yaitu Jawa Tengah dan Jawa Timur. Untuk kategori waspada banjir terdapat di daerah Aceh, Sumatera Utara, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, D.I. Jogjakarta, Banten, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Papua.

Sementara itu sebelumny, Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Jogjakarta Warjono menuturkan, pada 4 April diperkirakan hujan dengan intensitas sedang-lebat dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang terjadi di Kota Jogjakarta, Sleman, Kulon Progo, Bantul, dan Gunung Kidul, terutama pada siang, sore, atau malam.

”BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem,” kata Warjono.

Dia mengatakan, cuaca ekstrem tersebut berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi berupa banjir, banjir bandang, tanah longsor, hujan es, angin kencang, dan angin puting beliung. ”Terutama untuk masyarakat di wilayah rawan bencana hidrometeorologi,” papar Warjono.

Dia menjelaskan, berdasar analisis dinamika atmosfer terkini, terdapat pusat tekanan rendah di Samudera Hindia sebelah barat Australia yang membentuk daerah pertemuan angin (konvergensi) memanjang dari wilayah Banten hingga Jawa Tengah dan terjadi belokan angin (shearline) di wilayah Jawa Timur. 

Kondisi tersebut, menurut Warjono, diperkuat kondisi ENSO pada La Nina lemah, anomali suhu muka laut di Samudera Hindia sebelah selatan Jawa dan Laut Jawa umumnya di atas normal, serta profil vertikal kelembapan udara di atas wilayah DIJ yang cukup tinggi.

”Diperkuat dengan labilitas lokal oleh proses konvektif pada siang hari di wilayah sekitar pegunungan atau perbukitan mampu meningkatkan pertumbuhan awan hujan terutama awan cumulonimbus di wilayah Jogjakarta,” ujar Warjono. (jpc)