SAMARINDA–Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bukit Pinang yang sejak beberapa tahun lalu sejatinya sudah tak lagi menampung sampah warga Samarinda, mulai berpindah secara bertahap. Sejak Senin (14/2), sebagian mobil pengangkut sampah yang biasanya membuang ke wilayah Bukit Pinang beralih ke Sambutan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda Nurrahmani menjelaskan, peralihan pembuangan akhir dari Bukit Pinang ke Sambutan belum bisa dilakukan sekaligus. Pertimbangan utamanya adalah kondisi jalan di TPA Sambutan yang bukan jalan cor. "Jadi bertahap, kami akan berprogres dan evaluasi terus-menerus sampai titik di mana semua akan terangkut ke TPA Sambutan," ungkapnya. Perempuan yang karib disapa Yama itu menerangkan, mobil angkutan sampah terbagi dua jenis. Yakni dump truck sebanyak 56 unit, dan arm roll sampah 20 unit. Angkutan tersebut melakukan pengangkutan sampah dari 103 TPS se-Samarinda. "Yang melakukan pembuangan ke TPA Sambutan sementara angkutan siang yang dump truck," sambungnya.

Ditemui terpisah, Ketua Komisi III DPRD Samarinda Angkasa Jaya Djoerani menjelaskan, memang sudah seharusnya TPA pindah ke Sambutan. Sebab, TPA di Bukit Pinang sudah overload, plus banyak keluhan masyarakat. "Karena itu kami minta ke pemerintah kota untuk segera melakukan perpindahan itu," tegasnya.

Namun, untuk pemindahan masih menyisakan masalah. Selain karena permasalahan lahan, DPRD juga mendapat masukan bahwa ada fasilitas pemerintah yang digunakan untuk pertambangan liar. "Tapi kami belum tahu pasti juga. Itu akan menjadi bahan bagi Komisi III, untuk monitoring ke lapangan," imbuhnya.

Diklaim, dalam waktu dekat pihaknya bakal menggelar rapat koordinasi dengan DLH. Untuk sesegera mungkin yang menjadi masalah bisa diselesaikan. "Supaya memang TPA Sambutan bisa berfungsi sebagaimana rencana awal. Masalah pembebasan lahan itu kan sangat krusial, kami akan telusuri apa yang sebenarnya menjadi ganjalan," pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Disdamkar Samarinda Hendra AH mengungkapkan, kebakaran TPA merupakan kejadian yang berulang. Sebab, ketika ada panas terik cukup panjang, bakal terbakar sendiri. "Di TPA karena pembusukan sampah gas metana naik, sehingga ketika panas akan terbakar. Kami beri pemahaman itu tidak pernah dibakar, DLH tidak pernah melakukan pembakaran karena menyebabkan polusi," tegasnya. Ada bantuan ekskavator untuk membalik sampah yang terbakar. Ketika bara api di permukaan kemudian disemprot air, sehingga langsung padam. Pun bila telah terkendali sepenuhnya, Hendra berharap hujan segera turun. Bila hujan, tidak akan ada lagi sampah yang terbakar. "Karena gas metana itu kan tetap, seperti di daerah Jawa sebenarnya itu dibuatkan pipa-pipa untuk dialirkan ke rumah penduduk. Menjadi gas bisa dimanfaatkan untuk menyalakan kompor untuk memasak," tegasnya. (dra/k8)

 

ASEP SAIFI ARIFIAN

@asepsaifi