Indonesia satu-satunya negara non unggulan yang bisa menembus putaran final Piala Asia Putri 2022. Berada di grup berat, Garuda Pertiwi tetap memelihara mimpi lolos ke Piala Dunia.

 

RIZKY AHMAD FAUZI, Jakarta

 

LAGU Padamu Negeri berkumandang. Satu per satu pemain tim nasional (timnas) putri mencium bendera Merah Putih dengan dikomandoi Ketua PSSI Mochamad Iriawan.

Keharuan menyeruak di ruangan salah satu hotel di Jakarta itu kemarin (16/1). Maklum, ini momen bersejarah: timnas putri dilepas secara resmi untuk tampil di putaran final Piala Asia Putri pertama mereka sejak 1988.

’’Tidak ada yang tidak mungkin. Kami pamit, semoga bisa memberikan yang terbaik untuk Indonesia,” kata pelatih timnas putri Rudy Eka Priyambada.

Timnas putri akan bertolak menuju India, tuan rumah Piala Asia Putri 2022. Di turnamen tersebut, skuad berjuluk Garuda Pertiwi tergabung di grup B dan bakal berhadapan dengan Australia di Mumbai Football Arena (21/1), melawan Thailand di DY Patil Stadium (24/1), dan melawan Filipina di Shiv Chhatrapati Sports Complex (27/1).

Secara persiapan, Indonesia bisa dibilang paling minim, setidaknya jika dibandingkan dengan ketiga negara calon lawan di grup. Dari daftar 23 nama pemain Indonesia, hanya empat yang tercatat memiliki klub. Yaitu, Shalika Aurelia Viandrisa yang baru bergabung di Roma Calcio, Sabrina Mutiara Firdaus (Arema FC), Octavianti Dwi Nurmalita (Persiba), dan Riska Aprilia (PSS Sleman).

Sementara itu, pemain-pemain lain seperti Zahra Muzdalifah hingga Insyafadya Salsabillah tidak terdaftar dalam klub mana pun. Itu tak terlepas dari tidak adanya kompetisi bagi pesepak bola putri. Kali terakhir bergulir Liga 1 putri pada musim 2019. Sedangkan musim 2020?2021 tak dihelat lantaran pandemi Covid-19.

Bandingkan dengan tiga negara pesaing Indonesia di fase grup. Australia datang dengan materi pemain mayoritas merumput di Eropa. Dari 23 pemain, 18 orang berkompetisi di Benua Biru. Mulai Sam Kerr (Chelsea), trio pemain Arsenal (Lydia Williams, Steph Catley, dan Caitlin Ford), duo Manchester City (Hayley Raso-Alanna Kenneddy), duo West Ham United (Tameka Yallop dan Mackenzie Arnold), serta masing-masing satu di Aston Villa (Emily Gielnik) dan Tottenham Hotspur (Kyah Simon).

Filipina juga dihuni pemain yang tersebar di berbagai negara. Sebanyak 11 pemain merumput di kompetisi level universitas di Amerika Serikat, 3 di Eropa, 2 di Jepang, dan sisanya di dalam negeri.

Lalu, Thailand membawa dua pemain yang merumput di Eropa, yakni Tiffany Sornpao (Keflavik FC, Islandia) dan Miranda Nild (Kristianstads DFF, Swedia). Sedangkan 21 nama lainnya berkompetisi di dalam negeri. Wakil dari klub BG CAS paling banyak dengan sembilan pemain. Artinya, kekompakan tim asal Negeri Gajah Putih itu patut diwaspadai.

Bisa lolos ke putaran final Piala Asia memang menjadi kejutan tersendiri bagi Indonesia. Sejak awal, Garuda Pertiwi tidak diunggulkan. Induk Federasi Sepak Bola Asia (AFC) menempatkan mereka di pot keempat alias non unggulan sebelum proses pengundian grup bersama negara-negara seperti Afghanistan, Bangladesh, Nepal, Maladewa, Guam, dan Laos.

Indonesia satu grup dengan Singapura, Korea Utara, dan Iraq. Namun, dua negara terakhir memutuskan mundur dari babak kualifikasi.

Akhirnya Indonesia hanya berduel melawan Singapura dalam dua leg yang masing-masing dimenangkan Garuda Pertiwi dengan skor 1-0. Alhasil, Indonesia menjadi satu-satunya negara non unggulan yang bersaing di putaran final Piala Asia Putri 2022.

Tidak adanya kompetisi di Indonesia disebut Zahra berpengaruh. ’’Tapi, saya enggak bisa menyalahkan liga yang nggak jalan karena tahun lalu ada Covid-19, dan stop, harapannya tahun ini benar-benar jalan karena sudah tidak ada lagi alasan-alasan,’’ ucapnya.

Ketua Asosiasi Sepak Bola Wanita Indonesia (ASBWI) Nadalsyah sudah menjamin bahwa kompetisi yang absen hampir tiga tahun bakal kembali bergulir. Kalau benar demikian, jelas itu bisa jadi penyuntik semangat bagi Garuda Pertiwi.

Mengenai banyaknya pemain muda yang ada di dalam skuad, bagi Zahra, itu bukan alasan untuk minder. ’’Jangan salah, pemain muda di sini (Indonesia) bisa dibilang lebih berpotensi daripada yang senior,’’ ujarnya.

Para pemain putri juga disebutnya memiliki jiwa semangat yang tinggi. ’’Karena sepak bola sudah berkembang dan harapan bisa berkembang juga, sedangkan yang senior sudah ada yang bekerja dan menikah. Jadi, bisa dibilang pemain muda lebih baik daripada senior,’’ bebernya.

Shalika yang bermain di Eropa juga menjadi motivasi bagi Zahra. Menurut dia, semangat juang yang ditunjukkan Shalika sangat luar biasa. Sebab, sebelum menjadi pemain profesional, Shalika bermasalah di berat badan.

’’Dia terjun serius ke sepak bola umur 14 tahun. Saya lebih dulu mulai, dari 7 tahun,’’ katanya.

Namun, Shalika berhasil menjadikan cercaan dan pandangan meremehkan sebagai motivasi besar untuk bangkit. ’’Aku suka banget, saya bisa main gereget itu dari dia, karena dia defender, aku attacker. Dari badan (dulu) dia gendut, jadi goal banget, dan sekarang di kontrak di sana (Eropa),’’ bebernya.

Karena itu, bermain di Piala Asia menjadi momentum bagi mantan pemain Persija Jakarta tersebut untuk bisa membuktikan bahwa dirinya layak untuk bisa bermain di Eropa. Hal senada disampaikan Sabrina Mutiara Firdaus yang menyebut Shalika sebagai motivator bagi dirinya dan semua rekan.

’’Saya sendiri dan teman-teman juga mau berkarier lebih jauh di luar negeri, apalagi di Eropa, seperti Shalika, di sini harus buktikan di Piala Asia bisa,’’ katanya.

Pelatih Rudy Eka Priyambada menyadari bahwa timnya tidak diunggulkan. Namun, dia tetap optimistis pengalaman di Liga 1 Putri 2019 dan Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua 2020 cukup jadi modal. Apalagi, mereka sudah menjalani pemusatan latihan sejak 12 Desember dan menjalani 12 kali uji coba.

Karena itu, dia berharap para pemain asuhannya bisa mengalahkan diri mereka sendiri untuk menghadapi tim kuat seperti Australia. ’’Kemenangan adalah bonus,’’ katanya.

Rudy ingin seluruh elemen tim terus memelihara mimpi agar mampu bermain maksimal hingga akhirnya lolos ke Piala Dunia Wanita. Ajang tersebut bakal dihelat di Australia-New Zealand 2023. Enam tim terbaik di ajang itu otomatis lolos ajang prestisius tersebut. ’’Ada motivasi yang menarik dari Bung Karno (Soekarno, presiden pertama Indonesia, Red). Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit, bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang,’’ ujarnya.

Toh, yang diraih tim asuhannya juga tak lepas dari keberanian untuk bermimpi. Tak ada yang menyangka Garuda Pertiwi bakal lolos ke putaran final. ’’Sekarang mimpi kami ke Piala Dunia Australia-New Zealand. Semoga bisa terwujud,” tegasnya. (*/c7/ttg)