Tingginya kebutuhan material kayu ulin bagi pembangunan di pemerintahan kampung di Kutai Barat (Kubar), kini menjadi masalah besar. Pasalnya, stok kayu ulin setiap tahun terus menipis. Bahkan, kerap menjadi sasaran penegakan lembaga hukum dengan dalil illegal logging.

 

SENDAWAR - Kondisi ini harus menjadi perhatian Pemkab Kubar, agar kebutuhan akan kayu ulin bisa dialihkan ke material lain atau ada upaya lain mengatasi persoalan yang muncul.

“Memang untuk kayu ulin terbanyak digunakan bagi kampung di pesisir sungai. Karena daerahnya rawa,” kata Arbat, warga Melak.

Jika konstruksi jalan kampung dialihkan ke pengurukan hingga semenisasi atau aspal, dipastikan memerlukan biaya sangat besar. Sebab, material pasir, koral, dan semen jauh mobilisasinya.

Upaya yang dilakukan pemerintah kampung menggunakan kayu ulin, selain lebih murah, juga mudah dikerjakan. Karena warga berdomisili di pesisir sungai lebih pandai mengerjakan material kayu.

Akhir-akhir ini, menurut sejumlah kepala kampung, untuk mendapatkan material kayu ulin sangat sulit. Apalagi ketika musim hujan, kayu tidak bisa keluar dari hutan. Di sisi lain, ada sejumlah kampung yang menolak hutan yang ditumbuhi ulin ditebang atau diolah.

Salah satunya di Kampung Panarung, Kecamatan Bentian Besar.  Kawasan pohon ulin tersebut dijaga oleh masyarakat setempat. “Jadi, ada satu kawasan yang dijaga oleh masyarakat sekitar, yang biasa disebut warga dengan taman ulin,” terang Sekretaris Dispar Kubar Alkatib.

Di Panarung memang masih terdapat pohon kayu ulin yang umurnya diperkirakan mencapai ratusan tahun. Kawasan ini mendapat apresiasi dari Dispar Kubar. Sebab tumbuhan pohon langka ini sangat dijaga dengan baik untuk kelestariannya.

Bahkan masyarakat sekitar dengan tegas melarang pengambilan pohon kayu ini. “Sangat luar biasa, mereka mau menjaga kelestarian pohon ini. Selain itu, keberadaan pohon yang usianya mencapai ratusan tahun ini berpotensi sebagai objek wisata. Yang memang juga sedang disusun oleh pokdarwis di kecamatan tersebut,” terangnya.

Meskipun berpotensi sebagai objek wisata, kondisi di dalam kawasan tersebut sama sekali tidak akan diubah, sehingga tetap akan mempertahankan kondisi alami dari alam tanpa campur tangan manusia.

“Hanya akan diberi pagar di sekeliling kawasan tersebut dan dibuatkan jalan setapak. Jadi, tidak ada bangunan-bangunan lain, murni dari alam saja,” tambahnya.

Rencana didirikannya pagar ini untuk melindungi pohon dari ulah oknum-oknum yang ingin mengambil batang pohon kayu tersebut. Sebab, tidak sedikit yang berupaya masuk ke kawasan dan mencoba mengambil pohon tersebut.

Selain menjaga kelestarian tanaman pohon kayu ulin dan dimanfaatkan sebagai objek wisata alam, ternyata kawasan ini sering dipakai oleh sejumlah universitas sebagai tempat penelitian.

“Terakhir kali dari Unmul Samarinda yang melakukan penelitian di sana. Ya harapan kita, kawasan ini tetap dijaga dengan baik. Kalaupun nanti dijadikan sebagai objek wisata juga bisa meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar,” tandasnya. (rud/kri/k16)