SAMARINDA - Inflasi pada tahun ini diperkirakan lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, namun tetap berada pada rentang target sasaran inflasi nasional 3±1 persen. Kenaikan tingkat inflasi tersebut didorong tingginya permintaan masyarakat, seiring dengan aktivitas perekonomian Kaltim yang mulai pulih dan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim Tutuk SH Cahyono mengatakan, tahun ini inflasi Kaltim berpotensi lebih tinggi dari tahun lalu. Sebab, lonjakan permintaan tahun ini diprediksi relatif sulit diimbangi oleh kemampuan produksi terutama untuk produksi pangan strategis.

Produksi pangan strategis di daerah sentra produksi di Jawa bisa terkendala berlanjutnya fenomena La Nina, sehingga berisiko mengganggu pasokan pangan di Kaltim. “Tekanan inflasi akan berasal dari sektor pangan yang diperkirakan berasal dari pricing behavior pasca-Covid-19 sehingga mendorong produsen meningkatkan harga sebagai kompensasi kerugian di tahun 2020,” jelasnya, Minggu (9/1).

Selain itu, inflasi juga diperkirakan bersumber dari terjadinya revenge travel yang membuat melonjaknya mobilitas masyarakat untuk melakukan perjalanan, terutama liburan setelah sebelumnya pemerintah melakukan pembatasan yang ketat. Menurut Tutuk, inflasi Kaltim dari sektor transportasi disebabkan oleh mudahnya persyaratan masyarakat untuk melakukan perjalanan dan juga diiringi fasilitas kesehatan yang lebih memadai serta terjangkau.

Lebih lanjut, kenaikan inflasi juga didorong oleh penyesuaian harga sejumlah komoditas yang terpengaruh kebijakan tarif atau fiskal pemerintah seperti kenaikan cukai rokok sebesar 12,5 persen yang mulai berlaku 1 Februari 2021, kenaikan tarif iuran BPJS kelas III, dan tarif bea meterai.

Sementara itu, tren harga komoditas seperti minyak bumi, crude palm oil (CPO), dan emas yang diprediksi tetap tinggi, serta adanya putusan kenaikan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) menjadi 11 persen juga menjadi upside risk tekanan inflasi. “Sehingga, bisa dipastikan inflasi 2022 akan lebih tinggi, namun masih terkendali serta di bawah sasaran inflasi nasional 3±1 persen,” pungkasnya. (ctr/ndu/k15)