Nurdin, lelaki 52 tahun yang merupakan tenaga perawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ratu Aji Putri Botung (RAPB) Penajam Paser Utara (PPU). Sejak 2007 dia memberi pelayanan khitan kepada anak dari keluarga tak mampu tanpa memungut biaya alias gratis.

Ari Arief, Penajam

 “KALAU dihitung dari 2007 sampai 2022 ini jumlah anak yang saya khitan mencapai ribuan anak,” kata Nurdin yang ditemui Kaltim Post di rumahnya Jalan Propinsi, Km 4,5 Nenang, Penajam, PPU, kemarin.
Ia mengaku tidak memiliki data berapa anak yang telah dia khitan gratis. Ia sempat ingat selama 2019 mengkhitan 404 anak, dan 2021 sebanyak 500 anak. Jumlah secara keseluruhan dalam kurun waktu 2007-2022 yang mencapai ribuan anak itu tersebar pada empat kecamatan di daerah ini. Yaitu Kecamatan Penajam, Kecamatan Waru, Kecamatan Sepaku, Kecamatan Babulu.

Motivasi memberi layanan khitan gratis itu, kata lelaki asal Sulsel ini, karena ia pernah merasakan sulitnya hidup jadi orang miskin. Dalam beberapa tahun, ia pernah menjadi penghuni Panti Asuhan Manuntung di Balikpapan. Setelah lulus SD, saya ditampung di panti asuhan ini selama enam tahun. Orangtua saya petani. Saya merasa pernah jadi orang susah jadi terpanggil untuk melakukan ini,” tuturnya.

Saat ditanya berapa biaya yang ia keluarkan untuk khitan per anak, Nurdin menjelaskan, biaya obat-obatan Rp 150 ribu ditambah biaya transportasi. Tetapi, biasanya yang dikeluarkan orangtua anak yang dikhitan apabila mengundang  mantri sunat berbiaya berkisar Rp 700 ribu sampai Rp 1 juta. Ada juga orangtua yang memberi saya uang. Tetapi, saya tolak. Kalaupun memaksa selalu saya kembalikan untuk beli obat-obatan untuk khitan kepada anak yang lain,” tuturnya.

Saat ini, ia memiliki agenda tetap layanan khitan gratis yang dilakukannya setelah pulang kerja dari RSUD RAPB PPU. Sepulang kerja saya naik sepeda motor mendatangi lokasi. Per bulan bisa 30-50 anak yang dikhitan,” katanya. Keluarga anak yang hendak dikhitan itu menghubunginya melalui telepon, messenger, dan WhatsApp (WA). Saya juga punya jadwal untuk Sabtu dan Minggu mengkhitan anak yang lokasinya jauh dari Penajam,” ucapnya.
Di samping itu, ia mengatakan, membuka khitan gratis yang berpusat di Masjid Al-Ula Nenang yang letaknya hanya beberapa meter dari rumahnya yang di halaman depannya terdapat pohon mangga itu. Selesai disunat keluarga anak lalu ditunjukkan kotak infak di masjid itu. Ya, boleh mengisi kotak infak masjid seikhlasnya saja sebagai kompensasi biaya sunat,” kata dia.

Saat ditanya apakah kegiatan sosial ini ia lakukan berkaitan dengan amal ibadah, Nurdin mengatakan, khitan gratis yang dia lakukan hanya hobi, bukan pula religius. Amal urusan lain. Mungkin ini bisa disebut sedekah ala Nurdin,” katanya yang kemudian disusul dengan tawa.

Tak hanya khitan gratis, tiap Jumat ia kerap mengisi khotbah Jumat, dan kadangkala oleh panitia masjid diberi semacam uang lelah. Uang-uang itu saya kumpulkan untuk dibelanjakan obat-obatan untuk khitan,” ujarnya. Untuk kepentingan menyebarluaskan informasi khitan gratis itu ia membuka media sosial di internet. Tujuannya memudahkan bagi warga yang ingin mendapatkan bantuannya dalam hal khitan gratis. Ia bisa ditemui melalui Facebook dengan ID Nurdin Nenang.(far/k15)