SAMARINDA-Meski sudah melewati masa sulit akibat pandemi Covid-19, sektor pariwisata masih bergerak terbatas. Kaltim masih kesulitan mendatangkan wisatawan Nusantara (wisnus) maupun mancanegara (wisman). Jumlah wisnus yang masuk ke Kaltim pada 2019 mencapai 7.085.381 orang. Angka itu jauh turun pada 2020 yang berjumlah 2.884.329 orang.

Begitu juga wiman, pada 2019 mencapai 3.188 orang. Namun tahun 2020, kunjungan wisman ke Kaltim hanya 639 orang. Sampai November 2021 hanya ada 198 orang. Meski menurun signifikan, pariwisata diprediksikan bisa lebih baik tahun ini. Hal itu dijelaskan Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Kaltim I Gusti Bagus Putra.

Dia mengatakan, dampak pandemi pada sektor pariwisata Indonesia juga terlihat dari pengurangan jam kerja. Sekitar 12,91 juta orang di sektor pariwisata mengalami pengurangan jam kerja, dan 939 ribu orang di sektor pariwisata sementara tidak bekerja.

Di sisi lain, pandemi Covid-19 juga berdampak langsung pada berbagai lapangan pekerjaan di sektor pariwisata. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2020, secara nasional sekitar 409 ribu tenaga kerja di sektor pariwisata kehilangan pekerjaan akibat pandemi Covid-19.

“Meski begitu, kami tetap optimistis pariwisata bisa bangkit tahun ini. Untuk itu saya menghadiri rapat koordinasi nasional Asita yang dirangkai dengan perayaan HUT ke-51 di Bandung,” tuturnya, Kamis (6/1).

Dia menjelaskan, pengurus DPD Asita Kaltim akan menghadiri rapat tersebut sekaligus menentukan arah organisasi ke depan. Asita disebutnya harus bangkit saat negara diwabah corona. Dunia pariwisata adalah yang paling terkena dampaknya. Ini tekad agar ke depan Asita bisa mendukung anggota agar kembali bangkit melayani dunia pariwisata.

Ada 14 DPD Asita se-Indonesia, antara lain DKI Jakarta, Kaltim, Nusa Tenggara Barat (NTB), Riau, Sumatra Barat, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Maluku, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Barat yang mengikuti rapat tersebut.

“Kami berusaha menghimpun semua dukungan, saling menguatkan, dan terus mencari jalan keluar agar pariwisata Indonesia bisa bangkit. Utamanya daerah kita masing-masing, wisatanya harus tumbuh lagi,” harap dia.

Di sisi lain, pelaku usaha juga terus berinovasi. Pandemi Covid 19 telah menumbuhkan industri digital dengan sangat cepat. Para pelaku pariwisata mulai memanfaatkan inovasi teknologi. Salah satunya dengan virtual tourism untuk liburan online.

Pemesanan tiket, hotel, paket wisata tanpa tatap muka atau dilakukan secara online. Asita yang anggotanya adalah biro perjalanan wisata (BPW) dan agen perjalanan wisata (APW), kelihatan mulai kehilangan peran.

“BPW dan APW yang selama ini memainkan peran sebagai penghubung antara penyedia wisata dengan konsumen, telah diambil alih oleh sistem digital yang dioperasikan secara online. Kami akui itu,” jelasnya.

Menurut Putra, BPW dan APW tidak hanya menghadapi tantangan dari pandemi Covid-19, namun juga dari sistem online yang dioperasikan bukan oleh BPW dan APW. Agar ribuan perusahaan BPW dan APW yang menyerap jutaan tenaga kerja ini tidak gulung tikar, maka diperlukan strategi baru dalam menghadapi persaingan digital di tengah pandemi Covid-19. (ctr/rom/k15)