PENAJAM–Badan Narkotika Nasional (BNN) segera membangun balai latihan kerja (BLK) yang dikhususkan untuk menangani bekas pemakai atau pecandu narkotika dan obat-obat berbahaya di Penajam Paser Utara (PPU). Upaya membangun BLK ini disampaikan perwakilan BNN Kaltim yang datang ke PPU, baru-baru ini.

“Perwakilan BNN Kaltim sudah datang kemari. Sejauh ini, sudah ada lahan kosong yang bisa dipakai untuk membangun BLK khusus pecandu narkoba, yaitu letaknya di sebelah Kantor Camat Penajam,” kata Ketua Badan Narkotika Kabupaten (BNK) PPU Hamdam kepada wartawan, kemarin.

Hamdam mengungkapkan, angka statistik menunjukkan Bumi Daya Taka ini bisa masuk pada kategori daerah darurat narkoba. Hal itu setelah dia mencermati jumlah pelaku pengguna narkoba yang ditangkap jajaran Satnarkoba Polres PPU.

“Hampir setiap hari terdengar warga PPU yang ditangkap untuk pelanggaran tindak pidana ini. Itu sebabnya menurut saya PPU ini sudah bunyi alarm darurat narkoba,” ujarnya.

Senada Hamdam, BNN Kaltim tahun lalu telah melakukan pemetaan kabupaten dan kota di Kaltim yang masuk kategori darurat narkoba itu. Di seluruh Kaltim terdapat 82 desa yang masuk kategori bahaya narkoba, yang hingga kini status tersebut belum dicabut oleh BNN Kaltim.

Perinciannya, Kota Balikpapan (16 desa/kelurahan), Kota Samarinda (9 desa/kelurahan), Kota Bontang (4 kelurahan), Kabupaten Berau (6 desa), Kabupaten Kutai Timur (4 desa), Kabupaten Kutai Kartanegara (28 desa), Kabupaten Kutai Barat (3 desa), Kabupaten Paser (8 desa), dan Kabupaten Penajam Paser Utara (4 desa).

Namun, data yang dihimpun Kaltim Post dari Kasatnarkoba Polres PPU Mulyono pada saat konferensi pers akhir 2021 pekan lalu, menyebutkan, terdapat jumlah penurunan dengan persentase kecil untuk tindak kejahatan ini dalam kurun 2020 dan 2021.

Misalnya, jumlah tersangka pada 2020 sebanyak 100 orang dengan perincian 92 laki-laki, dan 8 wanita. Sementara pada 2021 jumlah tersangka 98 dengan perincian 92 laki-laki dan 6 perempuan.

Jenis psikotropika yang berhasil diamankan kepolisian adalah jenis sabu-sabu pada 2020 seberat 435, 5 gram, dan pada 2021 dengan barang bukti yang sama seberat 301,15 gram. Kemudian, ada barang bukti bahan berbahaya dobel L untuk 2020 seberat 565 butir dan 2021 9.458 butir.

“Untuk jumlah crime total data ungkap kasus narkoba ini pada 2020 terdapat 83 kasus, dan 2021 terdapat 76 kasus atau turun 7 kasus atau turun 9 persen,” kata Kapolres PPU Hendrik Hermawan didampingi Kasatnarkoba Polres PPU Mulyono.

Hamdam yang wakil bupati PPU itu, kemarin, mengatakan, BLK khusus pecandu atau mantan narapidana narkoba dididik dan dibina tak hanya untuk menjauhi narkoba saja, tetapi dipersiapkan sumber daya manusia (SDM)-nya di bidang keterampilan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

Jadi, mereka dapat menghidupi diri sendiri dan keluarganya dan tidak tergantung pada narkoba. (ari/kri/k8)