SAMARINDA–Evaluasi terhadap pembelajaran tatap muka untuk pendidikan anak usia dini (PAUD), sekolah dasar (SD), dan sekolah menengah pertama (SMP) terus dilakukan.

Setelah sebelumnya ada 280 sekolah dibuka, ada tambahan 160 sekolah yang bisa melakukan kegiatan belajar-mengajar secara tatap muka. Total keseluruhan sekolah yang telah dibuka sebanyak 440 sekolah berada di bawah naungan Dinas Pendidikan (Disdik) Samarinda.

Kepala Dinas Pendidikan Samarinda Asli Nuryadin menerangkan, meski ada tambahan 160 sekolah dibuka, kegiatan belajar-mengajar (KBM) masih menerapkan pembelajaran di masa awal tatap muka, yakni dengan penerapan protokol kesehatan (prokes) ketat, waktu belajar hanya dua jam, tidak ada waktu istirahat, kantin tidak buka, dan tidak ada kegiatan olahraga. "Modelnya sama dengan lalu, jamnya terbatas, dan protokol kesehatan seperti yang lalu," jelas Asli, (3/1).

Dengan 440 sekolah telah melakukan tatap muka, artinya sekolah tingkat SMP telah dibuka seluruhnya di Kota Tepian. Tersisa saat ini adalah PAUD dan SD yang belum dibuka secara keseluruhan. "Banyak pertimbangan, total seluruhnya ada sekitar 800 sekolah dari SMP, SD, dan PAUD. Kami gradual, bertahap bagi yang siap. Masalah wastafel, toilet, ruang kelas, termasuk guru pun jadi pertimbangan," sambungnya.

Sejauh ini, yang dianggap siap melakukan pembelajaran tatap muka adalah 440 sekolah. Jumlah tersebut dipastikan berangsur-angsur bertambah bila tingkat penyebaran virus corona terus stabil di Samarinda. "Sebenarnya kita (Samarinda) itu di level 1, dan boleh dilonggarkan, tapi kami tidak mau gegabah. Jadi, kami coba dulu, bila tidak ada lonjakan (penyebaran Covid-19), akan ajukan izin ke Pak Wali lagi," urainya.

Arti dilonggarkan, lanjut Asli, bisa berupa penambahan jumlah sekolah yang akan dibuka. Bisa juga dari aspek penambahan jam pelajaran yang saat ini masih sangat terbatas. Termasuk kapasitas peserta didik di dalam ruangan yang saat ini belum 100 persen. "Kantin sekolah boleh dibuka misalnya. Kami berdoa dan berharap tidak ada lonjakan kasus di Samarinda. Agar kegiatan belajar mengajar di sekolah bisa benar-benar kembali normal," kuncinya. (asp/dra/k8)