SAMARINDA – Meja kerja pidana khusus (pidsus) di Korps Adhyaksa Kota Tepian pada 2022 dipastikan masih ada pekerjaan rumah (PR) yang belum beres dari tahun lalu. Terdapat dua penyidikan rasuah yang masih dikebut sejak pertengahan 2021, dan kini tinggal menunggu hasil perhitungan kerugian negara.

“Untuk penyidikan ada dua, hibah KONI Samarinda 2016 dan dugaan korupsi di PT Pegadaian Cabang Samarinda,” ucap Kepala Seksi Pidsus Kejari Samarinda Johannes Siregar beberapa waktu lalu.

Perhitungan kerugian masih dikoordinasikan dengan Badan Pemeriksaan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) perwakilan Kaltim. Kejaksaan, lanjut Johannes, masih menyesuaikan dokumen-dokumen yang diperiksa untuk mencari potensi kerugian tersebut. “Koordinasi itu sudah jalan dari November 2021,” lanjutnya.

Untuk tersangka, beskal yang bermarkas di Jalan M Yamin itu baru menetapkan satu orang untuk dugaan korupsi di PT Pegadaian tersebut. Sementara hibah KONI Samarinda belum ada tersangka yang ditetapkan lantaran masih fokus memperkuat dugaan pidana yang terjadi, dan menunggu hasil kerugian negara. Jaksa memang bisa menghitung kerugian sendiri, namun hasil hitung itu masih perlu divalidasi lewat entitas yang berwenang dalam perhitungan tersebut. Disinggung soal dugaan korupsi di PT Pegadaian, pria yang karib disapa Jo enggan membeber secara terperinci. “Nanti aja, belum bisa beber detail. Yang pasti potensi kerugiannya di atas Rp 300 juta,” jelasnya.

Jika tak ada aral dan hasil perhitungan BPKP keluar, perkara itu dipastikannya bisa dirilis akhir Januari mendatang. Untuk KONI Samarinda, Jo enggan mematok target kapan perkara itu digulirkan. “Satu dulu, kalau lancar Januari sudah bisa digulirkan ke meja hijau. Biar enggak beban. Untuk KONI, masih harus pendalaman,” kuncinya. (ryu/dra/k16)