Kemunculan buaya sepanjang 4,7 meter di wilayah Labuan Cermin, Bidukbiduk, sempat viral. Objek wisata tersebut terpaksa ditutup sementara waktu.

 

CAMAT Bidukbiduk Abdul Malik mengaku tidak bisa menjamin keselamatan warga dan wisatawan. Jadi, ia berencana melaporkan hal ini kepada Wakil Bupati Berau Gamalis dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) untuk membantu pembangunan pagar pembatas, agar buaya tidak masuk ke area Labuan Cermin.

Ia menuturkan, buaya besar tersebut kembali dilepasliarkan karena ada tiga warga Bidukbiduk, Bontang, dan Tarakan yang mengalami kesurupan setelah buaya tersebut tertangkap. Setelah dilakukan perundingan, buaya itu dilepas kembali ke alam. “Ya memang ada warga yang kesurupan,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Kantor Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Berau, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim, Dheny Mardiono yang dikonfirmasi menuturkan, gagal mengevakuasi ke Balikpapan. Setelah tiga warga di Bidukbiduk kerasukan makhluk halus, yang mengaku sebagai leluhur dari buaya tersebut.

“Lokasinya masih di Bidukbiduk, tapi agak jauh kami lepas,” terangnya. Buaya tersebut dilepas di Sungai Lempot, dengan jarak kurang lebih 2 km dari lokasi pertama kali buaya tersebut muncul, tepat pada pukul 02.00 Wita, di hari yang sama penemuan buaya tersebut.

Dheny menuturkan, lokasi tersebut cukup jauh dari jangkauan manusia, sehingga kontak antar-manusia dan buaya susah terjadi. “Kami juga pikirkan keselamatan masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Berau Madri Pani menuturkan, dengan kemunculan buaya ini, sebenarnya bisa menjadi objek wisata lokal bagi masyarakat Berau. Dijelaskannya, dengan adanya buaya ini, bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan datang berkunjung.

“Bangun pagar pembatas, jadi ada sekat antar wisata Labuan Cermin dan buaya tersebut,” ucapnya.

Ia menambahkan, daya tarik buaya ini tentu sangat besar. Banyak masyarakat luar yang penasaran dengan habitat asli dari buaya tersebut. Bikin perahu besar, jaga jarak, ia meyakini langkah ini juga bisa mendatangkan pendapatan asli kampung dan perekonomian masyarakat bisa bangkit.

Dengan demikian, wisatawan yang datang, tidak hanya melihat Labuan Cermin, Kaniungan, Lamin Guntur. Namun, dengan adanya buaya ini, bisa menjadi daya tarik sendiri. “Selama ini orang bisa melihat buaya langsung hanya di Mayang Mangurai, kenapa tidak dimanfaatkan untuk wisata lain di Bidukbiduk sana,” paparnya. Politikus Partai NasDem ini mengungkapkan, masyarakat bisa dibudidayakan sebagai gaet, untuk mendampingi wisatawan yang ingin melihat langsung habitat asli buaya di kawasan Bidukbiduk, dan bisa memberi makan buaya tersebut. 

“Belum ada sampai saat ini di Bidukbiduk, warga yang diterkam buaya,” pungkasnya. (hmd/arp/kpg/kri/k16)