Oleh: Dani Nur Subagiyo

Redaktur Sportainment

 

DUA kali berkunjung ke Qatar, dua-duanya meliput ajang MotoGP pada Maret 2008 dan April 2012, banyak sekali perubahan di negara tersebut. Perubahan yang menunjukkan bahwa Qatar adalah negara kaya. Pajak, pendidikan, dan listrik digratiskan di sana.

Punya finansial melimpah, Qatar tentu tidak kesulitan dalam menarik atensi dunia. Salah satunya lewat penyelenggaraan ajang olahraga. Di MotoGP, misalnya, Qatar adalah pelopor balapan pada malam hari. Alasannya adalah cuaca Qatar yang panas dan Sirkuit Losail berada di tengah padang pasir. Tim-tim balap juga mengeluh ban dan suku cadang motor mereka cepat rusak ketika melahap trek dengan suhu superpanas.

Alhasil, pada 2008 itulah MotoGP Qatar untuk kali pertama digeber pada malam hari. Untuk mewujudkannya, Sirkuit Losail dilengkapi tata lampu yang pencahayaannya diklaim setara dengan penerangan puluhan stadion sepak bola.

Predikat sebagai negara yang bisa mengubah ajang olahraga dari siang menjadi malam itu pun terjadi dalam sepak bola, di Piala Dunia 2022. Memang bukan memindahkan laga dari siang ke malam. Tapi dari pertengahan tahun (akhir Mei sampai Juli) ketika cuaca panas ke akhir tahun (November–Desember) saat cuaca dingin. Itu adalah yang pertama dalam sejarah Piala Dunia.

Perubahan waktu penyelenggaraan otomatis berdampak bagi pemain, pelatih, hingga klub. Semua perlu menyetel ulang program mereka demi Piala Dunia tahun ini. Liga-liga di Eropa yang biasanya bergulir dari pertengahan tahun ke pertengahan tahun berikutnya contohnya. November–Desember adalah bulan-bulan serunya persaingan.

Apakah itu berarti menguntungkan kompetisi dengan sistem satu kalender tahun seperti di Amerika Latin? Tidak juga. Mereka juga perlu memadatkan jadwal sehingga kompetisi cepat selesai. Jadi, pemain maupun timnas punya persiapan cukup.

Bicara persiapan, Qatar telah mempersiapkan hajatan mereka dengan baik. FIFA Arab Cup (Piala Arab) pada 30 November sampai 18 Desember lalu tak ubahnya ajang pamer kesiapan venue-venue Piala Dunia. Ada enam stadion dari delapan venue Piala Dunia yang digunakan. Stadium 974 (angka sesuai kode negara Qatar) di Doha dan Al Bay Stadium di Al Khor malah diinaugurasikan pada hari pertama turnamen.

Responsnya begitu positif. Aspek stadion nggak usah ditanya lagi. Fantastis. Yang tak kalah penting adalah aksesibilitas suporter dalam menggunakan moda transportasi. Yang paling disarankan adalah Doha Metro (semacam MRT). Jadwalnya sudah dirancang sedemikian rupa sehingga fans yang ingin berpindah stadion terakomodasi. Untuk diketahui, jarak terjauh antarstadion Piala Dunia hanya 75 kilometer.

Qatar juga all-out dalam memberi servis karena jam kerja moda transportasi diperpanjang. Dari biasanya 17 jam menjadi 21 jam. Seolah ingin merasakan kesibukan menyelenggarakan Piala Dunia, panpel Piala Arab mengundang 44 kelompok suporter dari 28 negara. Mereka dibiayai untuk dijadikan sampel.

Kalaupun ada yang dirasa kurang mengacu evaluasi panpel Piala Arab, tak lain keterisian stadion. Dari enam stadion berkapasitas kursi dari 40 ribu sampai 60 ribu, rata-rata penonton 75 persen. Sama seperti pengalaman dua kali meliput MotoGP Qatar, animo penonton tidak pernah wow. Hal itu seakan ingin menunjukkan bahwa mau sekaya apa pun Qatar, mereka tidak akan bisa membeli yang namanya: penonton. (*)